Telusuri

Memuat...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 06 April 2013

Cerita misteri kematian berdarah part 2-End

          Dalam ketegangan nya anang masih sempat –sempat nya tersenyum geli, Mendengar perkataan tora ketika mereka ketemu di kantor. Bukan kegagalan nya mendapat kan kejelasan harga, Tapi kabar tentang kematian cing along,
         “Kalau begitu, Ntar malam akan ada korban lagi” Anang mulai berkomentar,
         “bener,, Dan kalau analisa ku bener terpaksa kita harus mendatangi semua warga dan menyuruh nya mengungsi”
         Gagasan itu lah yang ditertawakan anang dalam hati, Mana mungkin mereka berdua akan menemui semua warga dan menyuruh nya mengungsi. Disamping akan jadi bahan penghinaan dan juga buat mereka yang nggak mempercayai hal-hal gaib,
         “Nah coba aja dulu konsep mu ke tante ela,”
         “Riskan aku biaca sama tante ela,”
         “Nah kalau begitu, Begini saja, “ Kata anang setelah beberapa saat mereka berdua terdiam,
         “Konsep mu itu coba lah sama mbak lis, Yang tinggal di belakang rumah kita,”
         “Temen nya mendiang yuli”
         “Bener”
         Tora termenung beberapa saat, Ia kenal dengan mbak lis, Sewaktu mbak lis sering main kerumah yuli, ia sering di ganggu sama anang dan akhir nya bersahabat dengan tora.
Pulang dari kantor, Tora sengaja berhenti didepan rumah mbak lis, kebetulan mbak lis baru pulang dari kantor nya juga, Dan baru aja turun dari mobil nya, Tora langsung membunyikan klakson nya, Mbak lis langsung menoleh dan melambai kan tangan nya, Bersama dengan senyum keakraban nya,
         “Hay sombong ya kamu sekarang tor,,?”
         “Sory,,, Udah jadi orang gedean” Kata tora dengan bercanda,
         “Uuuh ,,!! Payah loe,,? Mampir dong tor, Skadar minum teh sambil ngobrol,,?”
         Kebetulan pikir tora, alasan semakin kuat untuk mampir kerumah mbak lis. Lalu dara berhidung bangir itu langsung mengajak tora duduk digazebo kecil di taman depan rumah nya, Maka bukan hal yang sulit untuk tora mengawali pembicaraan tentang misi utama nya, Tapi kayak nya mbak lis kurang menanggapi secara serius ,, Sebentar-sebentar dia tertawa dan hampir saja tersedak, mbak lis yang sedang mengalami kegembiraan terbukti dengan perkataan yang ringan-ringan saja, Ia bisa tertawa begitu geli nya, Padahal menurut tora perkataan itu tidak lucu sama sekali.
         “Apakah begini ciri-ciri orang yang akan jadi korban” Pikir tora dalam hati,
         Tora tak bisa memaksa kan kehendak nya, karna apa yang dikuatir kan nya itu emang sulit dipercaya sama orang-orang. Akhir nya tora pasrah dengan keputusan mbak lis. Kecemasan dan kekecewaan hati tora jelas tergambar diwajah nya,
         “Gimana ,,? Apa mbak lis menanggapi perkataan mu,”?
         “Nggak tuch,, Perkataan ku malah di anggap nya seperti lelucon saja,,” Kata tora dengan mendongkol.

 Cerpen Misteri kematian berdarah part 2-End


        Misteri kematian berdarah

             Kehadiran malam di awali dengan turun nya hujan, memang tidak terlalu deras, Tapi bikin orang malas untuk keluar rumah, Apa lagi setelah pukul delapan, Ternyata setelah pukul delapan , Hujan semakin deras, Bertambah enggan untuk para penghuni perumahan komplek nusantara itu untuk keluar rumah, Setiap orang pasti sibuk dengan selimut nya masing-msing, Tapi tidak dengan tora dan anang bersama dengan vanesa mereka berniat untuk mengeluar kan kujang yang terpendam di rumah tora, Kujang yang bisa menanggal misteri pembunuhan di perumahan nya.
         “Siap kan saja peralatan nya, Dirumah mu, nanti setelah pukul 12 tengah malam kita mulai pancing dia agar keluar dari tempat nya,” Kata vanesa kepada tora dan anang.
Vanesa adalah klien kerja tora, Secara tidak sengaja tora pernah menceritakan tentang misteri pembunuhan di perumahan tempat tinggal nya, Dan sungguh tidak disangka vanesa adalah orang yang mengerti tentang hal-hal yang berbau mistis, Dan yang lebih ,membuat tora dan anang sama sekali nggak bisa berkata kalau ternyata vanesa masih titisan ratu pandan cendana. Dan dari vanesa lah tora tahu kalau didalam rumah nya terdapat kujang yang dapat menangkal pembunuhan yang emang di luncur kan seseorang,, kata vanesa pembunuhan itu mengguna kan keris setan ,Dan keris itu dapat membangkit kan tubuh sesorang yang sudah meninggal dan belum sempat untuk dimakam kan, Dan karna keris itu hanya bisa di tangkal dengan kujang mbah rejo, Dan kujang nya kini tertanam di dalam rumah nya tora, Malam ini vanesa , Tora dan anang berniat untuk mengeluar kan kujang itu dari dalam rumah tora.
Sebelum tepat pukul 12 malam, peralatan dan prasana lain nya sudah siap didalam rumah tora, Tepat pukul 12malam, Jam dinding berdetak 12kali, Vanesa menyuruh anang mengunci pintu rumah nya, Ia juga menyuruh tora menyalakan sebatang lilin untuk ditempat kan di depan pintu tersebut, Lampu pun dimatikan dan vanesa pun bersila dengan badan yang tegap. Mulut nya pun mulai komat kamit, Sambil membakar madat, Asap nya pun mulai memenuhi ruangan itu,
          Sepuluh menit lebih vanesa melakukan semedi tanpa bergerak sedikt pun, Angin segera berhembus Diluar rumah, Smakin lama semakin bergemuruh, Nyala lilin didepan pintu meliuk-liuk karna tertiup angin yang menerobos melalui lubang-lubang disekitar pintu. Tora dan anang semakin saling merapat kan diri, Dan tak ada satu pun yang berani bicara, Setelah beberapa saat angin menjadi seperti bergemuruh seperti badai, Anang memberani kan diri berbisik ditelinga tora,
“Wajah nya berubah, Perhatikan,,??”
Tora mengangguk tegang, sebab ia melihat wajah vanesa berubah menjadi lebih cantik, wajah kelasik ini tak lain adalah wajah ratu pandan kencana, Gemetar tangan dan kaki tora, Menggigil pula tubuh anang menahan rasa takutnya.
Tiba-tiba tangan vanesa menepuk lantai, Maka lantai itu pun bergetar, Anang memegang tangan tora dengan keringat dingin yang semakin mengucur, Vanesa tetap dalam posisi bersila, Tapi kedua tangan nya kini bergerak keudara, Seperti mengangkat sesuatu keudara, Gerakan lantai yang menyerupai gempa semakin bergemuruh, Gerak kaki meja dan benda-benda lain semakin terdengar jelas.
Tapi pada saat itu dari lantai muncul seberkas sinar putih kebiru-biruan, sinar itu sangat indah dan sangat menakjub kan, makin lama makin tersumbul keluar, dan akhirr nya memancarkan sinar seperti kembang api, bentuk nya pun semakin jelas terlihat, sebuah keris warna perak dengan ukuran 15 cm.
          Keris itu segera di sambut vanesa mengguna kan kain mori putih sebesar handuk kecil, Begitu keris itu terbungkus kain putih itu, Nyala sinar nya semakin lama semakin meredup hingga akhir nya bener-bener tidak bercahaya lagi, Suasana kembali teram temeram, Namun aroma wangi aneh menyebar memenuhi ruangan itu, deru angin dan getaran bumi sudah berhenti sejak tadi, vanesa kembali menampak kan kecantikan asli nya, ia menyuruh tora menyalakan lampu nya seperti semula, lalu mereka sama-sama memperhatikan keris itu, yang berwarna perak, mengagum kan sekali,
Angin malam mulai kembali berhembus menegangkan, hawa dingin mulai menembus badan dan membekukan aliran darah, hawa dingin itu juga yang membuat tora dan anang semakin merinding, karna almarhum cing along pasti akan mencari teman untuk di bawa nya ke alam baka, Vanesa langsung bangkit dari tempat duduk nya, Anang dan tora sangat ketakutan, Wajah nya pucat pasi, sementara itu suara gemuruh semakin jelas, Seakan ingin menembus dinding ruangan itu, Tora jadi semakin menggigil, Kujang itu segera di keluarkan oleh vanesa, Kujang berwarna perak itu mulai memancar kan cahaya nya yang indah, Dan semakin lama semakin terang, Tepat saat itu dari jendela yang mengarah ke halaman depan terlihat sebentuk bayangan wajah cing along,
          “Tor,, Lihat itu cing along,,”
          “Iya,, Jauhi dia,, Jangan ada yang mendekati,” Sentak vanesa, Sambil mengangkat kujang itu tinggi-tinggi,
          Cahaya kujang itu semakin lama semakin bertambah terang, Seluruh benda yang ada di ruangan itu memancarkan cahaya putih kebiru-biruan, Indah dan sangaat mengagum kan sekali, Tapi juga sangat menyeram kan. Karna wajah cing along berubah menjadi wajah yang sangat mengerikan, penuh darah dan nanah, Mayat cing along mendekati anang dengan tangan yang terangkat seperti mau mencekik mangsanya,.
          “Suruh dia kembali menemui majikan nya,!” Perintah vanesa kepada kujang itu.
          Blab,, Blab,, Blab,,!! Cahaya kujang itu berkedip tiga kali, Sosok cing along yang membuat anang dan tora menggigil hampir lumpuh itu berbalik pelan-pelan, kemudian terbang melayang dan menghilang dari pandangan mata.
          Vanesa mengambil sikap duduk bersila menghadap lilin putih, Entah apa yang dikatakan nya, Tapi yang jelas, Nyala kujang itu, kadang terang kadang redup, begitu pula dengan cahaya yang dikeluar kan oleeh benda-benda disekitarnya, Beberapa saat setelah itu mereka mendengar suara jeritan histeris yang mencekam, jeritan itu seperti dari tempat yang jauh, Tapi jelas seperti jeritan seorang wanita,
           “Tora” Suara anang seperti mendesah ketakutan, Karna disaat itu mereka melihat seraut wajah tanpa badan melayang-layang memutari tempat itu, Wajah yang menangis dan merintih-rintih itu ternyata wajah tante ela, Mereka juga mendengar jelas apa yang di ucap kan wajah tante ela itu.
           “Aku benci ,,!!! Aku benci sama semua orang, Terutama yang kaya, Karna mereka aku begini, Karna mereka yang membuat suami ku mati, owh, Aku benci sama semua orang yang hidup di muka bumi ini,, mereka harus ku bunuh,! Kusiksa jiwa nya, hancur lah ia agar puas dendam ku kepada mereka,. Tapi, , , Sekarang kekuatan keris setan ku, Ada yang mengalah kan, percuma aku berguru dengan kepada mak lebak yang telah memberiku keris itu, Oh,, Hancur aku, Kehormatan ku di cabik-cabik. Aooooh ampun...!!!!”  Bayangan itu berputar makin cepat, dan akhir nya lenyap bersama hilang nya suara rintihan,

           Tapi segera muncul sinar merah yang menembus dinding hingga menggetar kan bangunan tempat tinggal tora, Cahaya merah itu melayang dan hinggap di samping kujang yang ada di tangan vanesa, Ternyata cahaya tersebut adalah keris setan yang selama ini dimiliki oleh tante ela, keris setan itu terpancing oleh kujang yang ada di tangan vanesa, dan memancarkan cahaya merah jambu, Sebelum lenyap di dalam kain mori.
           Esok nya mereka mendapat kabar kalau janda kaya yang akrab di panggil tante ela tewas dalam keadaan yang mengerikan. Tubuh nya tercabik-cabik seperti habis di makan binatang, Ternyata selama ini teror mayat itu di lancar kan oleh tante ela, Dan dengan datang nya keris setan di tangan vanesa membuat teror misteri itu hilang selama lama nya,, suasana pun menjadi damai. Orang-orang tidak merasa terancam lagi hidup nya..

Sekian........

Selasa, 05 Maret 2013

BERBAGI CERITA HOROR ANDA .....!!!

Bgi anda yang mempunyai cerita horror aneh mengerikan ... bisa share ke kami ......
kami akan memasukan cerita anda ke postingan kami .................... 

dengan kirim ceritamu ke fanspage kami ...    

kelas 1b yang mencekam

***
Anya termenung sendiri mendengar penjelasan temen-temen nya, Ternyata bener dugaan nya selama ini, Kenapa dia tiap berada di kelas nya bulu kuduk nya selalu berdiri, Ternyata bener kalau kelas 1b emang angker, Dulu kata nya ada seorang siswi yang bunuh diri di kelas itu, Dia nekat bunuh diri karna di tinggal sama pacar nya, Dan yang paling mengheboh kan lagi ternyata perempuan itu lagi hamil, Dan dia tewas dengan menggenas kan, Dengan tubuh bersimbah drah, Dia mati dengan cara menyilet nadi nya sendiri, Dan hingga kini pun bangku yang di gunakan vani untuk membunuh diri nya sendiri, Tidak pernah di pakai siapa pun, Ditarok di pojok ruangan, Nggak ada 1orang pun yang berani duduk di bangku itu, untuk keamanan siswa Bangku itu udah berapa kali di pindah kan kedalam gudang, Tapi esok hari dengan sendiri nya bangku itu udah ada di tempat nya semula, Hingga akhir nya di biar kan begitu saja di pojok ruangan,.
Anya juga sebener nya sangat takut mendengar berita itu, Tapi anya bener-bener penasaran, Apa bener cerita tentang vani yang kata nya mati bunuh diri,

"Nya loe ngapain bengong sendirian di dalem kelas" Kata aurel sambil menatap tajam ke arah anya,
Anya hanya diem dan memandang aurel,
"Nya gue kan udah berkali kali ngomong ke loe, Loe jangan ngelamun sendirian ntar loe kesambet sama hantu nya vani" Kata aurel lagi sambil mata nya langsung tertuju ke arah bangku yang ada di pojokan,
"Hiiii" Kata aurel sambil meraih tangan anya daqn menggandeng nya ke luar, Terlihat jelas bulu kuduk aurel yang berdiri, Dan wajah nya yang memucat, Karna saking takut nya membayang kan bangku angker yang ada di kelas nya.

Cerpen remaja kelas 1b yang mencekam

Pagi itu anya kaget setengah mati, Sekolah di gempar kan dengan kesambet nya lela dan 6orang anak lain nya, Mereka semua berteriak-teriak nggak karuan, Dengan mata yang melotot, Kejadian ini udah empat kali semenjak anya pindah kesekolah itu, Anya memutar otak nya mencoba berpikir secara rasional, Kenapa yang kesambet selalu lela dan temen temen nya, Sebener nya apa yang terjadi, Ada apa dengan lela dan temen-temen nya, Apa yang terjadi sebener nya, Ada apa dengan kelas 1b, Ada apa dengan vani yang kata nya mati bunuh diri,

Siang itu pas istirahat sekolah, Anya sengaja nggak keluar dari kelas nya, Dia berharap bisa ketemu sama hantu nya vani, Penasaran yang ada di otak nya mengalah kan semua rasa takut nya,
Dengan perasaan yang nggak menentu, anya terus memandang bangku yang ada di pojok kelas nya, Dia berharap bisa menemukan petunjuk untuk rasa penasaran nya, Tapi hingga bell berbunyi pertanda kalau jam istirahat nya telah berakhir, Anya sama sekali tidak menemukan keganjalan di bangku itu, Tapi uasaha anya nggak cuma sampai di situ aja, Anya telah merencanakan kalau malam ini dia akan mendatangi sekolah nya, dan mencari tahu kebenaran nya, .

Malam itu setelah waktu menunjuk kan pukul 21:35 anya pun keluar dari rumah nya dan menuju kesekolah nya, Dia pengen malem ini menemukan jawaban Dari semua rasa penasaran nya selama ini, Setelah anya berhasil memanjat pagar sekolah nya, anya pun langsung menuju ke kelas nya, dan masuk melalui jendela yang sengaja nggak di konci nya,.
Dengan hati yang nggak menentu anya menunggu di kelas itu, Dari remang-Remang cahaya lampu dari luar ruangan kelas nya anya terus menatap bangku itu, Tapi yang di tunggu-tunggu nggak juga dateng, Dilirik jam yang ada di tangan nya, Waktu telah menunjuk kan pukul 23:45, Berarti udah dua jem lebih dia berada di kelas nya, Sama sekali anya tidak melihat wujud vani, Dengan langkah yang gontai anya mulai melangkah meninggal kan kelas nya, Dan ketika anya lagi memanjat jendela kelas nya,
"Krek" Anya mendengar bangku yang di geser, Anya pun langsung mengurung kan niat nya untuk meninggal kan kelas nya, Diliat dengan seksama bangku yang ada dipojok kelas nya, Tapi bangku itu tetap diam nggak bergerak, Dengan keringat dingin yang membasahi tubuh nya, Didekati nya bangku itu, Dengan badan yang gemetar, Anya pun duduk di bangku itu,

"Van maafin gue, Gue sama sekali nggak berniat tuk mengganggu loe, Gue cuma pengen tau dengan pasti ada apa sebener nya, Plise kasih gue petunjuk" Kata vani dengan suara yang pelan,

Tapi hantu nya vani sama sekali nggak memperlihat kan wujud nya, Hingga waktu menunjuk kan pukul 03:00 Anya sama sekali nggak menemukan jawaban dari semua pertanyaan nya,,
Dengan perasaan yang kecewa anya meninggal kan sekolah nya,




Cerpen remaja kelas 1b yang mencekam

Semenjak malam itu anya jadi semakin penasaran,
"Rel emang dulu vani meninggal nya siang apa malem si" Tanya anya siang itu,
Aurel menatap tajam ke arah anya, Dia sama sekali nggak percaya kalau anya siswi baru di kelas nya menanya kan kematian vani,
"Siang, Udah ach jangan tanya-tanya lagi, Gue takut" Kata aurel sambil pergi meninggal kan anya sendirian,

Anya hanya bisa menatap kepergian aurel dengan tatapan yang kosong, Dilirik bangku yang ada di pojok kelas nya,
"Ada apa sebener nya" Anya bergumam sendiri, Penasaran bener-bener telah menghilangkan rasa takut nya,

Malem ini anya berniat akan kesekolah nya lagi, Dia bertekad tidak akan berhenti sebelum menemukan jawaban nya,
"Krek" Terdengar bangku yang tergeser
"Van plise, Beri gue petunjuk" Kata anya dengan lirih

Setelah hampir tiga jam anya menunggu Dengan samar terlihat seorang yang duduk di bangku itu, Dengan seragam yang masih melekat di badan nya, Anya sama sekali nggak bisa menggrak kan tubuh nya, Kali ini anya bener-bener melihat dengan kepala nya sendiri,
Dengan mulut yang terasa kaku anya mulai membuka suara nya,
"Kamu siap"
Perempuan itu hanya diam dan memandang tajam ke arah anya,
"Kamu siapa" Anya mengulang pertanyaan nya,
"Vani" Kata perempuan itu,
"kamu kenapa sering mengganggu siswa yang ada di sekolah ini, Ada apa sebener nya"
"Aku marah" Kata vani dengan kenceng,
"Marah kenapa"
"Dulu waktu aku masih hidup mereka selalu memojok kan ku, mereka menghina ku, Aku dendam sama mereka"

Anya termenung Kini dia telah menemukaan jawaban yang selama ini telah mengganjal otak nya, Semua jawaban dari pertanyaan nya selama ini, Vani hanya mengganggu orang-orang yang dulu selalu menghina nya...

End
Penasaran bisa mengalah kan semua rasa takut yang ada pada diri kita,,,

Cerita Misteri Kematian berdarah part 1

Hujan tangis membanjiri rumah berwarna biru itu, Ratapan duka terdengar bersahutan, Sungguh menyayat hati para tetangga yang mendengar nya. Jeritan duka yang paling jelas terdengar oleh para tetangga adalah jeritan vany. Abg yang paling mempunyai banyak teman dikomplek tempat tinggal nya, Gadis cantik itu ternyata menangisi kematian kakak perempuan nya yang akrab di panggil kak yuli.
Sebelum fajar genap menyingsing, rumah vany sudah penuh didatangi para tetangga Yang terkejut dan bangun dari tidur nya karna mendengar jerit tangis rumah berwarna biru itu, Mereka sangat terkejut dan menjadi merinding setelah mengetahui bahwa kak yuli telah ditemukan tewas dengan cara yang sangat menyedihkan.Mayat Dara berusia 27 tahun itu ditemukan oleh mak idah dalam keadaan tergeletak tanpa nyawa lagi di ruang tamu.
“Tadi nya saya kira non yuli jatuh dan pingsan,, Segera saya bangun kan, , , Dengan mengguncng-guncang tubuh nya.” Kata mak idah pembantu nya. “Tapi ,, Setelah saya perhatikan , Wajah non yuli pucat pasi, Tubuh nya juga dingin banget, Mata nya terbelalak dengan lidah yang terjulur keluar, Saya jadi tahu kalau non yuli telah meninggal.”Kata mak idah yang pertama menemukan mayat yuli, Dan kepada siapa saja ia menceritakan tentang kematian yuli dengan tangis yang tersendat-sendat, kadang ia malah sulit berkata akibat nafas nya yang sesak karna tangis kedukaan nya.
Siapa pun yang melihat langsung mayat kak yuli pasti merinding bulu roma nya, Kak yuli tewas hanya menggunakan daster tipis, Saat ditemui mak idah pertama kali posisi mayat itu agak miring memunggungi sofa, Kelopak mata nya terbuka lebar dengan lidah yang terjulur keluar seperti habis di cekik,Tapi badan nya berbau sangat amis melebihi ikan yang busuk.
Kondisi seperti itu lah yang membuat merinding dan iba hati setiap orang yang sempat melihat jenazah kak yuli diruang tamu itu.Termaduk tora yang bukan merinding tapi hampir muntah karna tak tahan dengan bau busuk tersebut.
Tora adalah tetangga yang tinggal di seberang rumah yuli, Dia tinggal dirumah itu dengan sepupu nya, Anang. Saat mendengar jerit histeris keluarga korban, Tora adalah orang pertama yang segera datang kerumah yuli, Dan tora juga yang pertama kali masuk kerumah itu setelah dilihat nya beberapa tetangga keluar dari rumah nya, Dan melihat jelas-jelas mayat yuli diruang tamu.
Belum ada pukul enam pagi, Komplek perumahan nusantara itu sudah di heboh kan dengan kematian yuli, Jalanan dan rumah korban di padati orang. Masing-masing orang membicarakan mayat yuli yang diduga dibunuh itu. Wajah mereka menyeringai ngeri membayang kan keadaan mayat kak yuli,
“Pasti matinya dicekik, Mata nya terbelalak dan lidah nya terjulur keluar,,”
“Tapi aneh nya nggak satu pun dari anggota keluarga nya yang mendengar suara gaduh di ruang tamu itu,”
“Iya ya, padahal disebelah ruang tamu itu ada kamar vany dan dan mak idah, tapi masa kedua orang itu nggak dengar suara apa-apa si,”
“Tapi sekarang masalah nya siapa yang membunuh yuli,”
Kematian wanita cantik dan sexy itu yang punya banyak bisnis itu, Emang mengundang penasaran dan tanda tanya tetangga sekitar nya, banyak yang menyayang kan kematian yuli, karna yuli adalah wanita yang menjadi incaran setiap kaum adam di komplek perumahan itu, Termasuk tora, Sering menggoda dan mengincar yuli,.
Setelah melalui pemeriksaan dokter forensik, Maka diketahuilah bahwa yuli tewas dengan cara dicekik, Sehingga tulang leher yuli hampir patah.
“Diperkirakan peristiwa itu terjadi dua jam sebelum mayat nya ditemukan mak idah,” Kata petugas yang menangani kasus itu,
Sulit sekali memukan siapa pembunuh yuli, Karna setelah melalui pemeriksaan yang bener-bener-bener cermat, ternyata tidak ada yang menyamai sidik jari ditubuh korban


Misteri kematian berdarah


*** MISTERI KEMATIAN BERDARAH****


Ada keseriusan tersendiri dihati tora dalam membahas kematian yuli, Dia membahas dengan anang sepupu nya, Dan tora sependapat dengan anang kalau kematian yuli mengandung unsur mistis, Kematian yuli itu bukan kematian yang wajar,.
“Hmz,, Seperti nya di perumahan yang kita tempati ini mengandung kekuatan mistik, Menyerupai kutukan keramat deh nang,”
“maksud mu tanah yang digunakan membangun komplek ini mengandung kutukan maut begitu,??”
“Kira-kira begitu!” Tegas tora, “Bayang kan saja, Setiap ada orang yang meninggal, Tapi mayat nya tidak dimakam kan hari itu juga, Maka roh mayat itu akan mencari teman dengan mengorban kan salah satu penghuni komplek ini,,”
Anang menatap sepupu nya dengan dahi yang berkerut, Tora menjelas kan maksud nya,,
“Waktu ardi meninggal, Malam nya pak dollah tewas di bunuh seseorang, Dan setiap ada orang yang meninggal dan belum dimakam kan, Pasti malam nya ada meninggal dengan cara serupa seperti yuli.”
“Hmzzz,,,,,” Anang manggut-manggut sambil menggumam, ia sangat serius mendengar analisa tora,
“Kalau begitu kita harus secepat nya pindah dari sini ra, jangan sampai kita nanti terpilih jadi teman jenazah yang belum dimakam kan dalam satu hari,”
“kayak nya si, Memang harus begitu,,” Gumam tora seperti bicara kepada diri nya sendiri.
“Tapi kayak nya kita memang harus mencari tahu, Informasi ini sejelas-jelas nya tentang asal-usul tanah disini,”
Tora setuju dengan gagasan itu, Ia jadi ingin tahu, Bagaiman keadaan tanah ini sebelum di bangun komplek perumahan nusantara yang ia tempati sekarang,. Dan satu-satu nya penduduk asli tempatan yang sekarang masih tinggal disitu adalah ngkong sarmin, Yang akrab di panggil ngkong min, Sekalipun usia nya sudah mencapai 60tahunan tapi ia masih cukup cekatan untuk orang seusia beliau,
“Yang jelas tempat ini dulu nya adalah rawa-rawa, Suaktu saya masih kecil saya masih inget temen saya yang mati dimakan buaya di rawa-rawa ini, Saya nih, Kalau ketahuan bermain di rawa-rawa ini pulang nya pasti di gebukin sama bapak saya, Karna rawa-rawa ini terkenal angker. Para pendekar zaman dahulu kalau mau mendapat kan ilmu yang tinggi harus bersemedi dirawa-rawa ini. Dan pasti nya juga banyak ujian nya, Dengan penampakan makhluk-makhluk halus, Dan lain lain nya.”
“Wah mengerikan sekali ya kong” Komentar tora.
“Ya memang begitu seharus nya, Kalau dia berhasil semedi disini, Baru lah dia di juluki pendekar yang hebat, Sepanjang sejarah baru satu orang yang berhasil semedi disini dengan selamat, Yaitu mang dadang, Dia lah yang di sebut dengan julukan pendekar rawa maut,”
“O, Berarti rawa disini nama nya dulu rawa maut ya kong,?”
“Ya,, Karna banyak setan nya dan membawa maut, Lagian pas zaman belanda dulu rawa ini jadi tempat pembuangan mayat. Itu lah mengapa rawa ini menjadi angker dan membawa maut.
“Serem banget ya kong, Tapi kata ngkong pertama sekali tempat ini bukan rawa-rawa,?”
“O, kalau kata orang tua-tua dulu nih,, Tempat ini awal nya adalah istana ratu pandan pasutri, Dan tempat ini adalah tempat yang cantik dan wangi.”
“Terus kok bisa jadi rawa-rawa gimana cerita nya kong,?”
“Cerita nya.. Ratu pandan pasutri di persunting oleh panglima dari negeri seberang, Tapi lamaran nya di tolak, Dan panglima dari negeri seberang mengamuk, Dan semua rakyat dan penghuni istan a dibantai habis, Dan ratu pandan pasutri di kubur hidup-hidup, Dan di atas nya di bangun gapura, Biar jelas-jelas ratu pandan pasutri nggak bisa keluar, tapi tiap malam terdengar, tangisan ratu pandan pasutri, Air mata itu menjadi banyak sekali, Dan menenggelam kan gapura itu, Lalu jadi lah rawa itu.”
Tora terasa puas penjelasan ngkong min tentang asal-usul tempat nya, Walau pun dia harus pulang pukul 11 malam lebih, Tapi tora sama sekali nggak menyesal,
“Terus apa hubungan nya dengan kematian yuli” Tutur anang saat mendengar penjelasan dari tora tentang asal-usul tempat tinggal nya.
“Menurut ku tanah ini menjadi tanah terkutuk , karna dendam ratu pandan pasutri.”
Anang hanya maanggut-manggut mendengar perkataan tora.


*** MISTERI KEMATIAN BERDARAH****


Tora yang tinggal bersama sepupu nya ingin cepat-cepat pindah dari perumahan nusantara itu, rumah nya di tawar kan dengan harga yang relatif murah, Kepada teman atau pun kepada siapa saja yang berminat, Bahkan sampai tora memasang “RUMAH INI DIJUAL” Didepan pintu pagar rumah nya, Ada jug beberapa orang yang datang dan menanyakan rumah nya dan hal-hal lain, Tapi setelah itu orang-orang itu tidak pernah kembali ataupun menelpon tora, Sementara Itu kehidupan tora dan anang di bayang-bayangi rasa takut, Setiap ada kematian ditempat itu, Tora selalu menyaran kan agar langsung dimakam kan hari itu juga,
Tapi tanggapan itu tidak dihirau kan oleh keluarga yang sedang berkabung, Seperti keluarga kang madun, anak nya tadi sore meninggal akibat kecelakaan, Karna udah sore, Mayat almarhum dedi, Anak nya kang madun harus diinap kan,, Dan seperti Yang telah dibayang kan oleh tora sebelum nya besok nya pasti akan yang meninggal,
Dan keesokaan hari nya tora mendapat kabar, kalau cing encep kedapatan meninggal di tempat tidur nya dengan mata yang terbeliak dan lidah nya yang menjulur keluar, Sama persis seperti dengan kematian yuli,. Berita ini sangat mengheboh kan dan meresahkan warga sekitar,
Sebelum berangkat kerja, tora sengaja meluncur sendirian kerumah tante ela, Anang sudah berangkat duluan menggunakan motor, Yang penting anang sudah menyampai kan pesan dari tante ela,
“Rencana nya tante nanti mau ke singapore, Jadi kalau bisa kau disuruh menemui nya pagi ini untuk membicarakan soal harga” Kata anang sewaktu mereka mau berangkat kerja,
“Tapi tante ela nggak ngasih uang muka dulu kan,?”
“Ya belum lah,, Dia kan Cuma lihat-lihat rumah mu dulu,,”
“Sukur lah kalau belum kasih uang muka,”
“Memang nya kenapa,?”
“Semalem ada yang ngotot mau beli rumah ini berapa pun,?”
“Wah kok lebih berani dari tante ela ya,,?”
“Nggak tahu deh, Aku sendiri nggak ngerti kenapa dia berani Bayarin rumah ini dengan harga tinggi,,”
Rumah tante ela memang masuk kedalam komplek perumahan nusantara, Hanya saja letak nya jauh di belakang sana, Mendekati batas wilayah penduduk asli, Tora saja jarang melewati jalanan disekitar rumah tante ela, lagian tora tidak mempunya teman yang tinggal di blok rumah tante ela,
Kecamuk diwajah tora berhenti setelah di sambut sama tante ela, Seraut wajah cantik umur 40an, Karna merasa baru pertama kali bertemu, Perempuan eksklusif yang berambut panjang itu mengajak nya berjabat tangan, Sekedar sarat klesik dalam perkenalan,
“Saya dengar tante mau brangkat ke singapore, jadi saya sempat kan pagi ini untuk mampir kesini,? Maaf kalau saya sampai mengganggu kesibukan tante di pagi ini,?”
“O, Nggak kok,,? Biasa aku lagi melakukan rutinitas pagi, Untuk membugar kan fisik ku,”
“Terus terang tor, “ Kata nya dengan santai sekali seakan udah kenal lama dengan tora, “Setelah aemalem saya pikir kan baik-baik, Rumah mu memang mempunyai posisi yang sangat ku sukai, Dan boleh percaya dan boleh nggak percaya, Tapi yang jelas semalem aku sempat berpikir juga, Dan bertanya-tanya dalam hati lho, kenapa rumah strategis dan senyaman itu mau kau jual,? Apa nggak sayang,,?”
“Kalau bicara soal sayang, Tentu saja saya sayang tante,”
“Terus”
“Ada faktor lain yang membuatsaya terpaksa menjual rumah itu tan.?”
“kalau boleh tau, Faktor apa si yang membuat tora ingin sekali menjual rumah tora,”
“maaf tante, Saya nggak bisa untuk menceritakan hal ini kepada tante, Sekarang masalah nya adalah kejelasan tante, Apa tante emang berniat membeli rumah saya,”
Tante ela tertawa ramah, Pandangan mata nya, Tak pernah bergeser sedikit pun dari wajah tora,
“Kalau masalah niat si pasti niat dong, Tapi masalah nya, Yang bikin saya ragu-ragu, itu karna saya kasihan denganmu, Kalau harus kehilangan rumah yang memberikan keberuntungan tersendiri untuk mu,”
“Tenang kalau masalah itu saya mempunyai perhitungan sendiri tentang keuntungan dan kerugian menjual rumah itu tan,,” Kata tora sesopan mungkin.
“pasti pertimbangan mu berdasar kan emosi, Atau keadaan yang panik, Coba kamu pikir kan baik-baik lagi,” Kata tante ela terkesan seperti menggurui, “Begini saja tor, Karna kau itu adalah termasuk tetangga ku, Nggak ada salah nya kalau aku menaruh kepercayaan dan membantu kesulitan mu,”
“Saya mau membeli rumah di tempat lain, jadi saya mau menjual rumah itu tante,” Kata tora sambil menahan sedikit kedongkolan kecil dihati nya,
“Itu pun aku masih bisa membantu mu, Okey sekaran kita pergi ke bank, Mumpung saya belum berangkat ke singapore,”
“Jadi jelas nya tante nggak jadi membeli rumah saya”
“Kalau toh jadi ku beli sekarang juga, Saya nggak tega dengan mu,?”
‘Yaudah deh kalau begitu saya pamit dulu tante” Kata tora sambil bergegas pamit dari rumah tante ela.

Bersambung Minggu Depan

Rabu, 13 Februari 2013

THE SIGNS OF THE DREAMS #5 : MASSAL

THE SIGNS OF THE DREAMS #5 : MASSAL
Karya Avans Cross Lines

 Malam itu mayat-mayat bergelimpangan. Secara massal keluar dari dalam perut bumi. Apakah ini tanda hari kiamat? Bumi tak mau lagi menerima jasad mereka. Petinggi-petinggi negri, ilmuan-ilmuan pintar masa lalu dan tokoh-tokoh dunia yang telah mati, keluar dari bumi dalam keadaan utuh.

Berawal dari sebuah desa bernama Mekar Jaya. Malam itu aku dan saudaraku telah pulang dari Bandung. Membawa oleh-oleh sekantong kresek buah-buahan untuk keluarga kami. Mobil angkutan umum yang kami tumpangi malam itu mogok dan terpaksa kami harus jalan kaki di tengah malam yang mencekam.

Tanjakan Cidarangdan. Adalah jalan yang sangat menakutkan. Banyak rumor mengerikan dalam villa di samping tanjakan itu. Kami harus menyusurinya untuk mencapai rumah kami yang masih jauh dari sana.
“Man, tunggu! Aku mau kencing dulu!” kataku padanya.
“Cepatlah! Apa kau sadar kita berada dimana?” tanyanya dengan nada ketakutan.

Ada wc di sebuah kolam ikan di samping sebuah rumah gedong yang megah itu. Ketika aku sedang kencing tiba-tiba semuanya bergetar. Pelan, pelan dan kemudian tanah bergoncang hebat.
“Man! Man!” panggilku. Namun dia tidak ada disana. Dia berlari tunggang langgang meninggalkanku dengan meninggalkan kantung kreseknya.
“Man, tunggu aku!” sahutku berlari mengejarnya.

Gempa itu cukup dahsyat. Dalam sekejap ratusan rumah rusak berat. Namun ada sebuah rumah seorang nenek tua di Cidarangdan yang rumahnya tidak rusak terlalu parah. Tapi ada hal aneh yang terjadi di rumah itu. Lapisan tembok pasirnya berjatuhan beraturan dan membentuk sebuah sketsa-sketsa aneh di dinding rumahnya.
Gambar wajah alien, mayat, mata, dan gambar-gambar menakutkan lainnya. Aku dan saudaraku memperhatikan gambar-gambar itu. Apakah ini tanda-tanda? Hari kiamat? Ataukah hal yang sangat buruk akan terjadi di dunia ini?

Tanpa berlama-lama kami segera pergi dari sana. Menyusuri jalan raya untuk mencapai rumah kami yang masih jauh. Ada beberapa orang di hadapan kami yang mengerumuni sesuatu. Aku sangat terkejut ketika tahu apa yang dikerumuni mereka. Yaitu sepotong tubuh yang terbungkus kain kafan kumal yang tiba-tiba muncul dari dalam retakan jalan raya saat terjadi gempa tadi. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi bahwa itu adalah jasad seorang tokoh negeri yang sangat terkenal belasan tahun lalu.
Aku tahu semasa hidupnya orang ini adalah koruptor. Tapi terakhir aku dengar sebelum dia meninggal dia sempat diberi penghargaan, karena usahanya, negeri ini semakin maju dan dia sempat dijuluki sebagai tokoh negeri antikorupsi nasional.

Beberapa lama kemudian kami tiba di rumah kami masing-masing. Dan kami heran karena rumah di daerah kami tidak hancur bahkan rusak ringanpun tidak. Gempa itu hanya terjadi di Cidarangdan.
Keesokan paginya aku melihat berita di televisi. Di Mesir, sebuah mumi tiba-tiba muncul dari dalam pasir. Mumi dengan panjang 10 meter itu diduga adalah manusia purbakala puluhan ribu tahun yang lalu. Di daratan Meksiko juga muncul ratusan peti mati berisikan jasad tokoh-tokoh penting negeri tersebut.
Sementara di dalam negeri mayat-mayat keluar dari dalam perut bumi namun bukan di tempat dimana mereka dimakamkan dulu. Tapi mereka semua keluar di tempat-tempat goncangan yang terjadi dititik-titik tertentu di negeri ini. Aku heran kenapa gempa itu seperti memperlihatkan sebuah jalur-Line. Seakan-akan memberikan pertanda-pertanda bagi umat manusia.

Aku dan saudaraku hendak pergi sekolah pagi itu. Saat kami melewati daerah Cidarangdan, hal yang mengerikan terjadi disana. Ada sebuah rumah yang berdiri di atas daratan yang lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya. Gempa kemarin malam membuat daratan itu retak dan akhirnya longsor tadi pagi. Mereka bergelimpangan dimana-mana. Mayat-mayat berbungkus kain kafan kumal itu bermunculan. Berguling-guling ke jalanan saat longsor terjadi. Jumlahnya puluhan dan aku tahu siapa mereka semua.
Polisi, hakim, jaksa, pengacara, menteri, anggota DPR, gubernur, kepala desa, ketua Rt Rw, itulah profesi mereka saat hidup. Benar-benar yang membuatku tercengang adalah bahwa mereka semua tidak bekerja di kota kami dan mereka telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Seantero tanah air membicarakan hal ini dan bertanya-tanya apakah benar hari kiamat hampir tiba? Tak akan ada orang yang tahu itu. Namun yang jelas, ini adalah suatu pertanda. Pertanda sesuatu saat bumi tak mau menerima jasad mereka lagi...

Inspirated by mydream. Minggu, 27 Desember 2009

Selasa, 05 Februari 2013

SAHABAT PENUH MISTERI

SAHABAT PENUH MISTERI
Karya Jhose W. Sulaiman

Anton terduduk lesu dikursi rumahnya, wajahnya yang sudah masam tak mampu lagi memungut gairah senyum yg seperti biasanya dia keluarkan di sore itu. Sambil merebahkan tubuhnya di kursi yang memang biasanya dia tidurkan untuk melepas lelah..dengan menghela nafas panjang dan kepala beralaskan kedua tangannya yang ditekuk tersebut menjadikan khayalan terbang mendekat. Anton samar samar melihat temannya Dhika tengah menyapa dari jarak jauh. Lambaian tangan dhika terasa begitu dekat sehingga antonpun bergegas menghampiri dhika yang sudah menantinya di pintu gerbang rumahnya.” Tumben loe datang kesini dhik ?”, ucap anton sambil mencoba meraih sandal dibalik pintu rumahnya. Anton menyapa dhika dengan gayanya yang khas , " kemana aja sih lo jarang main ketempat gue dhik ? Emang segitu sibuknya ya ampe ngelupain temen? Tanya anton. " Ah bisa aja lo ton, gue adalah.. lagi sering banyak tugas dikantor jadi maklumlah jarang kumpul-kumpul lagi sama temen-temen hehehe." Balas dhika. " Ayo kedalem dulu dhik, udah mau maghrib tau..ntar kalau lama-lama diluar bisa kesambet setan loe hehehe" canda anton. " Biarin aja..kan gw setan nya hahaha..” tawa dhika merenyah. “ ah bisa aja loe dhik, masa ada setan seganteng lo lewat rumah gue ? ntar bakalan cewek cewek sini pada menjerit lihat lo narsis “ imbuh anton.

Kedua sahabat yang sudah lama jarang tegur sapa itupun akhirnya masuk kedalam rumah. “ duduk dulu ya, gue mau ambil air minum buat lo, gue tau elo udah jalan 10 km kan ? hehehe pasti betisnya pada pegel pegel nih “ ucap anton. “ thanks bro, gak usah repot repot kalau ada keluarin aja semua yang ada didalem lemari es lo..hihihi “ dhika mencoba bergurau.” Boleh ,ntar gue keluarin semua isi kulkas gue..tapi elo harus habisin ya ,sanggup gak ? “ canda anton sambil meninggalkan dhika ke dapur.
Sa’at anton sibuk mengambil botol air didalam kulkas terdengar suara jelas didalam kamar mandi , seperti suara orang yang sedang menuangkan air kedalam ember. Anton mencoba menutup pintu kulkas tersebut dan menghampiri pintu kamar mandi. “ setau gue nyokap sama bokap lagi kondangan jauh dan nggak mungkin jam segini udah pulang “ gumam anton sambil berfikir siapa kira kira orang yang ada di dalam kamar mandi. Sambil mendekat dengan pasti dan mencoba untuk mengetuk pintu kamar mandi tangan antonpun segera mengetuk pintu kamar mandi tersebut , namun baru saja akan mendaratkan tangannya ke pintu .mendadak Dhika menyapanya dari belakang. “ ada apaan sih ton ? “ celetuk dhika. Anton kaget bukan kepalang “ ah kamu dhik bikin gue jantungan aja .”imbuhnya. “ lagian ngapain ke kamar mandi mengendap endap gitu udah kaya maling aja “ bilang dhika. “ nggak tau nih kayaknya ada orang di dalam kamar mandi “ terang anton . “ ah bisa aja lo ton..gue aja dari tadi nggak denger apa apa kok !” balas dhika. Anton lalu membuka pintu kamar mandi dan dilihatnya sekeliling kamar mandi tersebut namun sepertinya tidak ada apa-apa. “ tuh kan bener nggak ada siapa siapa “ kata dhika sambil mengajak anton keruang tamu. “ Gue ambil air minum dulu dhik, elo tunggu di ruang tamu ya “ ujar anton. Anton tak habis pikir namun masih terngiang ditelinganya suara gerucuk air yang dituangkan dari sebuah gayung ke dalam ember dari kamar mandi terdengar jelas. “ ah mungkin hayalan aku saja kali ya “ ujar anton sambil membawa botol air yang dingin dari dalam kulkasnya.
“ dhika lo dimana ? ini air minum sama kue kesukaan elo ?” kata anton sambil mencari cari dhika. Anton mencoba untuk keluar dari rumah “ kemana tuh anak udah nggak ada “ gumam anton sambil mencoba membalik badan. “ dor “ hehehe..kaget ya ! “ dhika mencoba mengejutkan anton. “ duh elo tadi kemana sih gue cariin gak ada , kaya setan aja lo bisa ngilang “ bilang anton sambil menghela nafasnya. “ gue ada kok duduk di ruang tamu , elo aja yang enggak liat ..makanya jangan banyak mengkhayal hehehe “ cetus dhika.
Akhirnya kedua sahabat karib itupun kembali kedalam rumah , diruang tamu anton dan dhika berbincang bincang seputar kehidupan pribadi dan saling curhat maklum mereka sejak sekolah dasar sudah saling mengenal satu sama lainnya.

Tanpa terasa waktu terus berlalu , malam semakin larut..kedua sahabat itupun masih saling bercerita..sesekali mereka bermain play station sampai puas dan nonton film action dengan mengunakan dvd player.
Meja ruang tamu berantakan , gelas dan makanan ringan ada dimana mana tapi mereka tak menghiraukan . suara televisi terdengar jelas sa’at sedang ditayangkan konser dangdut dari televise swasta . Malam itu Anton sudah sangat mengantuk sekali. “ dhik elo nginep dirumah gue aja ya , kebetulan nyokap n bokap gue pulangnya besok siang , maklum kondangannya jauh banget “ ujar anton sambil memegang bahu dhika. “ skalian nemenin elo ya ? enak banget dong gue jadi satpam ” canda dhika. “ yah itukan cita cita elo dari kecil mau jadi satpam hahaha “ bales anton. “ sial “ kata dhika sambil berlalu kekamar mandi.
Sa’at dhika dikamar mandi , anton segera meraih remote control TV nya. Dan memutar gelombang chanel lain . kebetulan sa’at itu ada breaking news di TV .
" Selamat malam pemirsa berita kecelakaan hari ini , telah terjadi kecelakaan lalu lintas antara pengendara sepeda motor dan truck bermuatan pasir ..pengendara sepeda motor masuk kebawah truck dan terlindas lalu tewas seketika , setelah di identivikasi bahwa pengendara itu bernama ….” Pet !!“ suara TV yang dimatikan oleh dhika . “ yaaah kok dimatiin sih dhik , gue penasaran sama pengendara motor tadi..siapa tau orang sini yang jadi korban “ tegur anton dengan sedikit kecewa. “ gue paling takut kalau lihat berita kecelakaan..mendingan berita yang lain aja ton , beneran nih gue phobia tau “ ucap dhika berasalan.
“ baru segitu aja udah takut..payah lo ah “ cibir anton . “ yah gitu deh ton ,kan lo tau sendiri gue dari sejak kecil paling takut kalau lihat atau denger cerita film film tentang setan hehehe “ kata dhika lagi.

Udara diluar malam itu sangat dingin..lolongan anjing dari kejauhan terus menyalak dan suara burung hantu terus membahana . anton dan dhika sudah mau tidur. Mereka berdua bergegas ke kamar tidur.
“ dhik ini tau nggak ini malam apa ? “ bisik anton
“ nggak tau , gue jarang lihat kalender sih “ ujar dhika
“ ini kan hari kamis..alias malam jum’at “ gertak anton
“ huuh , malam jum’at kliwon dong..” kata dhika sambil ketakutan
“ tenang aja dhik , elo nggak usah takut..kan gue udah biasa liat setan “ canda anton
“ setan apaan ? “ Tanya dhika
“ setan gentayangan kayak elo “ tawa anton
“ ahh sialan ..emangnya gue mirip setan apa ? kata dika sambil menepuk punggung anton
“ udah ah..berisik lo pade ..gimana kalau kita tidur aja “ celetuk anton
“ tapi jangan nakutin gue ya ton..kan elo orangnya suka iseng , ingat nggak dulu waktu kita main kemah kemahan di samping rumah..elo bikin gue kencing di celana gara2 nakutin gue..? “ terang dhika
“ masih inget aja lo, gue malah udah lupa ..udah lama banget tau tuh “ balas anton.
“ ya udah mana selimut loe ton , gue udah nggak tahan nih badan gue udah kedinginan “ ucap dhika sambil menggigil
“ nih selimut lo yang warna putih , gue yang warna hitam aja “ kata anton sambil melemparkan selimut dari balik lemarinya ke wajah dhika.

Sambil merebahkan tubuh mereka diatas tempat tidur tidak lantas membuat kedua sahabat itu tertidur , masih ada perbincangan diantara keduanya.
“ ton..kita sahabatan udah lama banget ya , nggak terasa sudah lebih dari 23 tahun , elo emang sahabat gue yang masih gue kenal sangat baik , dulu si wawan dan fatur juga sahabat kita tapi sayangnya mereka sudah pergi jauh entah kemana “ cerita dhika
“ yah itulah gue, selain ganteng gue juga ramah dan baik hati hehehe “ ucap anton agak sedikit narsis
“ ton kalau nanti suatu sa’at gue mati , apa elo mau nemenin gue ? “ Tanya dhika perlahan
“ elo ngomong apaan sih dhik, udah kaya orang mau mati aja , nggak boleh ngomong kaya gitu “ ujar anton sambil memegang kepala dhika.
“ udah jawab aja ton “ Tanya dhika lagi.
“ yaaa kalau elo mati gue pasti seneng dong hahahaha ..
“ kan jadi cowok terganteng posisinya jadi gue yang pegang “ canda anton
Dhika terdiam..tangannya meraih selimut dan menutup wajahnya.
“ duuh gitu aja marah nih “ kata anton sambil membelakangi dhika

Beberapa sa’at mereka terdiam , anton yang sa’at itu sudah sangat mengantuk mencoba memejamkan mata , namun sepertinya tidak bisa.
Dipandanginya tubuh dhika yang berselimutkan kain putih membelakanginya.
“ dhik…dhika…elo udah tidur ya “ anton mencoba menggoyangkan tubuh dhika
“ dhik….hmm…beneran udah tidur nih anak dasar pelor..skali nempel langsur molor “ seloroh anton.
Sayup sayup terdengar suara televisi yang masih menyala diruang tamu.
Anton bergegas bangun dan kembali keruang tamu.
“ perasaan tadi gue udah matiin nih TV ? kok bisa nyala lagi ya ? gumam anton masih penasaran.
Ketika sampai diruang tamu anton segera mencari remote TV dan berusaha mematikan tv tersebut .
“ kok dimatiin ton , gue masih nonton tau “ tiba2 dhika sudah ada diruang tamu terduduk sambil memegang kaleng berisi kue.

Anton tergidik kaget “ loh…kan tadi elo dikamar sama gue udah tidur ? kok udah ada disini ? “ anton penuh keheranan
“ eh anton gue tuh daritadi disini nonton TV , kebetulan gue suka banget sama acara film action dari transtv “ ucap dhika
“ jangan bercanda lo dhik , bikin gue jadi bingung aja “ anton masih terheran heran.
“ hehehe sebenernya gue tadi belum tidur , waktu elo ke ruang tamu gue ngikutin elo dari belakang..emang nggak berasa ya ? “ timpal dhika
“ duh bikin jantung gue deg deg-an aja lo dhik “ hentak anton
“ hehe sory sory bro bikin elo jadi ketakutan , tapi gue nggak mirip setan kan hihi “ gurau dhika
“ auah elap..ya sudah setel aja berita..biasanya jam segini ada berita malam deh ..tuh kan udah jam satu dini hari “ hardik anton sambil memegang remote control TV dan mencari chanel berita.
Sementara anton duduk dibawah sofa..dhika duduk diatas sofa mereka kembali bercanda.

Sa’at mereka berbincang Anton kembali terpaku dengan sebuah berita kecelakaan . “ lah inikan berita yang tadi sore..kebetulan gue tadi belum rampung liat gara-gara elo matiin dhik “ ucap anton sambil memegang erat remote control tv nya. Dari dalam tv terdengar berita “Selamat malam pemirsa berita kecelakaan hari ini , telah terjadi kecelakaan lalu lintas antara pengendara sepeda motor dan truck bermuatan pasir ..pengendara sepeda motor masuk kebawah truck dan terlindas lalu tewas seketika , setelah di identivikasi bahwa pengendara itu bernama andhika yang beralamat dijalan tawes 4 bekasi .” suara tv membahana
“ kok namanya Andhika pas banget sama nama elo dhik “ Tanya anton kepada dhika.
“ dhik…dhika..kemana lo ? “ anton menoleh tapi dhika sudah tak ada
“ kemana nih anak , cepet banget ngilangnye “ gumam anton
Bergegas anton ke kamar dan mendapatkan dhika tertidur pulas “ woi..enak bener ninggalin gue diruang tamu “ hardik anton kepada dhika

Dhika tak bergeming sedikitpun..anton mencoba membangunkan dhika namun dhika tetap saja terdiam . sa’at anton hendak membuka selimut dhika tiba tiba ..
“ ton…aku mulai kedinginan nih..” ucapan lirih terdengar dari mulut dhika
“ dingin apanya , kan AC nya udah gue matiin “ balas anton
“ dingin banget tau, mana kepala gue berdarah nih…sakit banget hik.hik “ lirihan dhika kembali sambil menangis
“ elo kenapa sih dhik ? “ Tanya anton
“ kepala gue berdarah ton…sakiiiit banget..rasanya mau pecah “ imbuh dhika sambil terus menutupi kepalanya dengan selimut
“ tadi perasaan elo nggak kenapa kenapa ?” ucap anton lagi
“ iya ton..gue emang nggak kenapa kenapa tapi kepala gue perih bangets..” kata dhika
“ coba gue liat kepala lo , sebenarnya sakit apa sih “ anton keheranan

Sa’at anton akan membuka selimut yang menutup wajah dhika tiba tiba listrik padam dan ruangan menjadi gelap gulita.
“ duh pake acara listrik mati lagi , kacau dah “ teriak anton sambil mencoba keluar dari kamarnya untuk mencari korek api.
Ketika anton mencari korek api , mendadak spertinya anton menabrak sesuatu..” duh siapa sih nih “ teriak anton
“ gue yang elo tabrak ton “ jawab dhika
“ elo cepet banget keluarnya dhik , gue jadi heran “ ketus anton
“ kepala gue sakit ton…darahnya terus terusan keluar nih “ ratap dhika menghiba
“ ya udah bentar gue mau ambil korek api di dapur , elo tunggu aja disini “ kata anton lagi

Sekembalinya dari dapur dan mendapatkan korek api beserta lilin anton lalu menyalakannya di ruang tamu.
“ toon…kepala gue makin sakit dan perih nih , elo bisa tolongin gue nggak “ ucapan dhika yang mulai melemah
“ elo dimana sih dhik , gue nggak liat elo dimana ? “ Tanya anton
“ gue dikamar elo ton , kesini dong “ sahut dhika mengajak

Lalu anton ke kamarnya dengan membawa lilin , didapatinya dhika tengah berbaring sambil memegangi kepalanya.
“ iya kepala elo berdarah kenapa dhik ? ya ampun..darahnya banyak banget “ anton mulai panic
“ gue perih banget ton, badan gue dingin banget..kepala gue aduuh sakitnya minta ampun “ lirih dhika lagi.
“ coba lihat kepalanya yang berdarah..” ucap anton sambil mencoba mengangkat lilinnya tepat mengarah kewajah dhika.
Ketika dhika melepaskan tangannya , tampak jelas kepalanya yang penuh darah merah mengental dan bola mata yang hamper copot keluar , bagian otaknya pun mulai terlihat dengan bintik putih cairan otak yang berdarah.
Anton kaget bukan kepalang, bulu kuduknya berdiri dan menjerit sejadi jadinya..seketika tubuhnya lunglai lemas tak berdaya tergeletak di samping tempat tidurnya.
Keesokan harinya anton mendapatkan dirinya berada dirumah sakit dengan kepala terikat perban putih dan disampingnya pun berdiri ayah dan ibunya.
Ayah : “ kamu kenapa ton , kamu sakit apa ? “
Ibu : “ iya ton. Ma’afin ibu ya yang tidak menjaga kamu sepenuhnya “
Anton masih terdiam dan masih dengan kondisi lemah. Seorang suster dan perawat pria datang menghampiri untuk memberikan obat-obatan untuk pemulihan kondisi kesehatannya.
Anton: yah ..bu..anton kok ada dirumah sakit ? emang anton kenapa ?
Ibu : “ anton , tadi pagi ibu menemukanmu pingsan di sebelah tempat tidur..kepala kamu membentur lantai dan ada darah .. sebenarnya kamu habis main apa sih di kamar sampai jatuh begitu..?
Anton : anu bu..anton semalem habis..
Belum selesai bicara mata anton tertuju pada sebuah berita yang ada di sebuah Koran yang sa’at itu di pegang sang ayah.
Anton : yah coba lihat berita itu , siapa yang kecelakaan ?
Ayah : iya ton ..baru mau papah ceritakan bahwa temanmu si dhika kemarin sore meninggal akibat kecelakaan lalulintas , tubuhnya terpelanting dan masuk ke kolong mobil truck .siang ini jenazahnya akan dikebumikan di TPU pondok kelapa . beritanya sudah ada ditelevisi dari kemarin malam dan hari ini sudah ada beritanya di Koran Koran , tragis ya. Padahal ayah tau anak itu baik sekali.itulah takdir kita tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kita.

Anton terdiam membisu dan mancoba mengingat peristiwa semalam dimana ketika dia hendak ke kamar mandi tiba-tiba dhika sudah mengejutkannya dari belakang padahal tidak terdengar langkah kaki dhika , dan ketika mencari anton diluar rumah tiba tiba ketika menoleh sudah ada dibelakangnya..lalu ketika menonton berita kecelakaan dhika berusaha mematikan TV , begitupun ketika hendak menonton tv ketika dhika sudah tidur tiba tiba sudah ada dibelakang dan duduk di atas sofa dan terakhir melihat wajah anton dengan wajah penuh darah dan kepala pecah.
“ maaf pak..ibu..ada dokter yang akan memeriksa kondisi kesehatan anton , jadi ibu dan bapak bisa keluar sebentar “ sapa sang suster kepada ayah dan ibu anton
Tak lama sang dokterpun datang untuk memeriksa , sambil membalikan badannya sang dokter menyiapkan obat obatan diatas meja.
Dan ketika sang dokter berbaik badan dengan jarum suntik ditangan tampak wajah dhika yang tersenyum sinis sambil berkata “ kamu juga harus mati anton….”

TAMAT

PROFIL PENULIS
Nama saya jhose w sulaiman , panggilan jhose lahir di Jakarta 13 september ... , hobie saya menulis cerita dan membuat film pendek serta menyanyi.
Silahkan hub saya di jhose.waluyo@gmail.com .

Minggu, 03 Februari 2013

GAUN PUTIH BERNODA MERAH

Cerpen Momo Angelina

Waktu sudah menunjukan pukul 00.00. namun entah mengapa mataku enggan terpejam. Kubuka kembali tirai jendela kamarku. Remang-remang bulan dan pohon rambutan di depan rumahku menghiasi malam itu. Walaupun begitu sunyi, namun seakan-akan pohon rambutan itu digelayuti mahluk-mahluk putih sambil tersenyum padaku. Segera kutepis bayang-bayang itu. Kututup kembali tirai jendelaku.

Lalu aku beranjak menuju kamar mandi. Saat itu aku berada di rumah sendiri. Karena ayah, ibu, dan adikku sedang berada di jogja, dirumah nenekku. Niatku untuk buang air kecil, dan mencuci muka mandadak meredup. Seakan-akan saat aku berjalan menuju kamar mandi, dibelakangku aku terperanjak bagaikan seseorang sedang mengamatiku. Betapa kagetnya aku, sesuatu terjatuh dari atas ruang dapur. Berwarna putih bersih, beraroma anggur. Dan dihiasi gambar hati di bagian bawahnya. Seperti gaun putih. Lalu kuambil gaun itu. Indah sekali. Namun lumayan berat. Di bagian bawah, dan di bagian dalam tertulis “Siromana.” Pikirku, mungkin ini adalah nama dari pemilik gaun ini.



Namun aku berpikir, dari mana gaun ini jatuh? Lalu kubawa gaun tersebut ke kamarku. Ku amati lagi gaun itu. Kutempel-tempelkan ke tubuhku, sambil aku berkaca. Betapa indahnya. Namun aneh, di bagian tengah gaun itu, ada noda berwarna merah. Lalu ku cium noda merah itu. “ acchhrr… berbau anyir dan berbau anggur…” pikirku saat itu. Namun ada niatku untuk memiliki gaun itu. Akan ku cuci keesokan hari. Dan ku pakai pada acara pesta dansa malam Valentine di Villa Deski minggu depan. Pasti aku akan kelihatan cantik jika aku mengenakan gaun itu. Lalu, mataku mulai mengantuk. Dan ku simpan kembali gaun itu ke dalam lemariku. Dan aku beranjak tidur ke atas kasur di kamarku.

Pagi sekali aku sudah terbangun dari tidurku. Perlahan ku langkahkan kakiku menuju ke kamar mandi. Kubasuh mukaku. Kutatap wajahku di kaca kamar mandi. “ ASTAGAA!!!” teriaku. Karena ku lihat ada bayangan wanita memakai gaun putih di pantulan kaca itu. Segera aku membalikkan tubuh dan melihat ke belakangku. Apa aku salah lihat? Karena tak ada seorang pun di belakangku. Mungkin ini hanya khayalanku. Tetapi rasanya aku kenal gaun yang di pakai wanita itu. Ya, itu gaun yang aku temukan malam tadi. Lalu aku bergegas berlari menuju kamarku. Ku buka lemariku. Ternyata gaun itu masih tetap ada di lemari kamarku. Lalu ku ambil gaun itu. Dan ku amati kembali. Ku lihat noda merah itu semakin banyak, padahal tadi malam noda ini belum selebar ini. Kubawa gaun itu ke kamar mandi, dan kucuci.

Tapi aneh, air yang bekas cucian gaun itu, tak berwarna merah. Padahal gaun tersebut ternoda merah. Aku penasaran dengan noda itu. “apa noda merah ini?” pikirku. Ku cium, dan ku pejamkan mataku. Saat aku memejamkan mata, sketsa peristiwa seperti terlintas di pikiranku. Entah dari mana namun itu seperti nyata. Aku seperti melihat, sesosok gadis belanda yang amat cantik mengenakan gaun ini, dan berdansa. Senyumnya manis sekali. Sepertinya dia berdansa di dalam acara sebuah pesta dansa. Dan di peristiwa itu, sepertinya tempatnya berada di rumah ini, di ruang tengah. Lalu segera ku buka mataku. Aku sedikit takut. Lalu segera ku jemur baju itu di belakang rumahku.
***

Yap, hari yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Hari ini adalah hari Valentine dan nanti malam aku akan menghadiri acara pesta dansa di Villa Deski. Aku bingung apa aku harus menngenakan gaun yang amat indah itu? Aku takut aku terlalu mencolok pada malam nanti. Tetapi tak apa, aku memang kepingin sekali mengenakan gaun ini.
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00. segera aku bersiap-siap berhias diri. Ku bedaki wajahku, kusisir rambutku, dan ku ambil gaun ku didalam lemari kamarku. Perlahan ku kenakan gaun itu. “ waw… great! Very beautiful!” aku terlihat cantik sekali. Aku menari-nari bahagia. Aku juga bernyanyi-nyanyi. Aku merasa wanita paling cantik di dunia saat aku mengenakan gaun ini. Tetapi entah mengapa mendadak kepalaku pusing. Perutku mual. Dan aku tak bisa melihat dengan jelas, hanya remang-remang. Dan aku terjatuh. Lalu pingsan. Saat aku pingsan, aku seakan masuk ke dalam dimensi lain. Aku berjalan di suatu acara malam pesta dansa. Namun aneh sepertinya tak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaanku. Padahal saat itu aku berada di suatu keramaian. Dan memang acara itu sepertinya di adakan di rumah baruku ini, oleh orang-orang Belanda. Aku mengikuti seorang wanita yang memakai gaun yang gaunnya itu persis seperti gaun yang aku kenakan saat ini. Ku ikuti geraknya. Dia terlihat sedang berdansa dengan kekasihnya.

Lalu dia duduk dan meminum anggur dengan kawan-kawan dan kekasihnya. Tetapi kulihat, salah satu temannya melirik dan tersenyum kepada kekasihnya. Ya temannya itu begitu aneh tingkahnya. Lalu saat wanita itu hendak meminum anggur dan bersulang, tiba-tiba temannya menyenggol gelas yang di bawa wanita itu dan tertumpah ke Gaun wanita itu. Dan aku juga melihat kekasihnya mengajak wanita itu ke dalam kamar. Tetapi sungguh aneh, teman wanita tadi mengikuti gerak mereka berdua ke dalam kamar. Dan saat kekasihya membaringkan dia ke ranjang tiba-tiba “ craaaaasssshhh” aku menjerit. Wanita itu di tusuk pisau oleh kekasihnya sendiri. Lalu temannya itu segera memunculkan diri, dan meludahi wanita yang tak berdaya tadi. Kulihat noda anggur tadi sudah tertutupi oleh noda merah darah. Perlahan wanita itu lemas dan tewas.

Ingin ku bantu wanita tadi, tetapi aku tak dapat menyentuhnya. Lalu mayat wanita itu di sembunyikan dan di kubur oleh mereka di dekat pohon rambutan yang ada di depan rumah. Namun sebelum mereka mengubur mayat itu, kulihat gaun yang dikenakan wanita tadi dilucuti, dan di ambil oleh temannya. Mereka tertawa. Betapa kejamnya pikiriku. Kekasih tega membunuh demi berselingkuh dengan kekasih sahabatnya sendiri. Lalu aku terbangun aku merasa sedikit pusing. Saat aku terbangun kulihat remang-remang ada sesosok bayangan. Ya, aku kenal bayangan itu. Itu adalah wanita yang ada di mimpiku tadi. Dia menatapku. Sepertinya dia ingin aku mengikutinya. Lalu ku ikuti wanita tadi. Sepertinya dia menuju ke arah pohon rambutan yang ada di depan rumah ku itu. Sampai di sana, dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arahku. Dia tersenyum. Lalu tangannya menunjuk ke arah gaun yang aku kenakan saat itu. Lalu ,menunjuk ke arah tanah tempat mayatnya di kubur. Ya, aku mengerti. Mungkin dia memberi kode untuk menguburkan gaun itu kedalam kuburannya.
“ kau ingin gaun ini aku kuburkan ke dalam sini?” tanyaku sambil menunjuk kea rah kuburan itu.

Kulihat dia mengangguk. Lalu aku bergegas menuju kamar. Kulucuti gaun itu. Dan aku kuburkan ke dalam tanah tadi. Dan ku timbun kembali. Tiba-tiba wanita itu muncul kembali, dan dia sepertinya meneteskan air mata dan tersenyum padaku. Kulihat ia terbang ke atas langit. Ia semakin tinggi, lalu ia sirna. Kupikir, pasti dia sudah tenang. Aku merasa bahagia. Lalu aku kembali menuju ke rumah. Saat aku menutup pintu, tiba-tiba mobil ayahku datang. Ternyata mereka sudah pulang dari jogja.
“ Viona, ini mama bawakan oleh-oleh, sini sayang!”
“ iya ma, apa itu?”
“ ini sayang, gaun putih, indah kan?”
Betapa kagetnya aku, gaun itu mirip sekali dengan gaun Siromana. Aku tersenyum. Kucium gaun itu. lalu kuangkat. “ iya ma. Bagus sekali, aku suka gaun ini… namun tak berbau anggur…” ucapku saat itu.

**SELESAI**    

Rabu, 30 Januari 2013

MELODI KEMATIAN

MELODI KEMATIAN
Karya Putri Handayani

Sore itu, ketika hujan lebat tengah mengguyur sebagian besar kota Kalingga. Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki areal Rumah Sakit Bintang, tampaknya mobil tersebut tengah membawa penumpang yang sedari tadi berkutat dengan rasa khawatir dan panik.
Para suster telah menunggu, stand by dengan sebuah kursi roda yang nampaknya sudah disiapkan untuk diduduki oleh seorang pasien. Dan benar saja, mobil tersebut memuntahkan seorang laki-laki dan wanita muda yang tengah mengalami pendarahan pada kandungannya. Wanita tersebut langsung dirujuk ke ruang bersalin, sementara sang pria yang tak lain adalah suaminya hanya diperbolehkan mengantar sampai di koridor depan tempat bersalin istrinya.
Setelah sekian jam terbunuh, akhirnya penantian berbuah hasil. Susan, wanita yang sejak tadi memperjuangkan hidup dan mati tersebut kini dapat bernafas lega. Buah hati yang selama 9 bulan dikandung dengan penuh perjuangan tersebut akhirnya lahir ke dunia dengan jalan sesar. Ini adalah anak yang ketiga dari hasil perkawinan mereka.
Jodi, yang tak lain adalah nama dari pria itu terlihat masih menunggu. Sudah hampir 3 jam ia menunggu, tapi sama sekali belum mendengar tangisan bayi. Namun dari kejauhan terlihat pria berpostur agak tinggi dengan segera mendekati Jodi.
“Selamat Pak Jodi, anak bapak telah lahir dengan selamat. Tapi...” kata seorang pria berjas putih yang sebagian wajahnya ditutupi masker berwarna hijau.
“Tapi kenapa Dok? Lalu bagaimana keadaan istri saya, apa dia baik-baik saja?” sambut pria itu heran sembari mengernyitkan alis.
“Istri bapak baik-baik saja, ya.. bapak bisa lihat sendiri lah. Terlalu berat untuk saya menyampaikannya kepada bapak, dan bapak pun harus tabah menerima kenyataan ini.” sambung sang dokter tersenyum tipis di balik balutan masker, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Jodi yang tertegun dengan tanda tanya besarnya.

Terlihat Susan terdiam diatas ranjang putih dengan pandangan kosong dan mata sayu.
“Apa yang terjadi pada bayi kita?” tanya Jodi khawatir.

Susan tetap diam seribu bahasa, pandangannya hanya tertuju pada sebuah box bayi yang ternyata didalamnya terdapat sang buah hati.
“Ayo jawab Susan, kenapa diam saja?” Jodi semakin geram sambil menggoyangkan kedua lengan istrinya.
“Anak kita Mas. Dari awal ia diangkat dari rahim ini, aku belum mendengar sedikitpun ia menangis.” jawan Susan, masih memandangi box dengan tatapan kosong.
“Kau serius?” sambung Jodi menyakinkan.
“Aku tak tahu, mungkin aku yang terlalu berhalusinasi. Atau..”
“TIDAK! Tidak mungkin, aku tidak percaya!” tukas Jodi tak yakin dengan kesaksian istrinya. Jantungnya seakan berhenti sejenak, aliran darah seakan mengalir tak terarah dari arus normalnya.
Suara gemuruh petir disertai hujan yang begitu deras malam itu menyertai peristiwa miris pasangan suami istri tersebut. Dan tak ada yang tau apa yang terjadi setelah malam itu berlalu.

Seorang gadis remaja yang kira-kira umurnya baru menginjak 17 tahun, tengah berlari tunggang-langgang ditengah keramaian pasar malam. Sepertinya ia sedang dikejar oleh Pol PP yang malam itu sedang mengadakan penertiban terhadap gelandangan dan pengemis.
Orang-orang terpostur kekar itu telah berhasil menangkap sebagian dari gelandangan yang biasa mengadu nasib di seputaran Pasar Sengol. Namun, sebagiannya lagi berhasil kabur menuju tempat persembunyian mereka. Biasanya para gelandangan yang berhasil kabur tersebut sudah mahir dan profesional dalam mengantisipasi bahaya razia itu. Tak ayal bila mereka dengan mudah bisa lolos dari sergapan para Satpol PP.
Mobil-mobil besar dengan belasan gepeng di dalamnya telah pergi meninggalkan hiruk pikuknya Pasar Sengol. Terlihat gadis remaja berpenampilan lusuh dengan rambut panjang terurai terdiam sembari menatap belasan teman seperjuangannya yang tertangkap. Memakai topi yang ujungnya diputar 180 derajat ke belakang menambah berandalnya raut gadis yang sebenarnya berperangai polos itu.
Berbekal sebuah gitar kecil, langkah gadis yang biasa dipanggil Lara ini kian mantap menyisir setapak demi setapak sebuah jalan raya yang terbilang lengang itu. Makhlum, jika sudah memasuki pukul 11 malam, jalanan di Kota Kalingga ini memang sudah sepi. Biasanya yang berlalu-lalang ketika ini hanya gelandangan yang tengah mencari tempat untuk beristirahat dan berlindung dari dinginnya malam yang menusuk.
Sepertinya Lara telah menemukan tempat tujuannya. Ya, sebuah emperan toko yang cukup luas nyaman untuk berbaring dan memainkan beberapa lagu dengan gitar kecilnya, sembari membunuh rasa takut akan kejamnya kehidupan di dunia. Tak ada yang bisa dipakai untuk membalut tubuh dari dinginnya hawa selain baju tipis yang melekat pada tubuh Lara. Dengan rasa iba pada diri, gadis itu pun mulai memetik senar-senar tipis bernada ritmis itu. Petikan-petikan itu bernada sendu, pas betul dengan kondisi hidupnya sekarang. Tanpa sadar ia pun mulai terlelap.

“Heh gembel, bangun! Enak saja tidur di depan kios orang, pelangganku pada pergi tuh.. cepat bangun, heh!”
Tiba-tiba Lara dikejutkan oleh suara ribut-ribut. Lara membuka mata sembari mengusapnya. Tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang wanita paruh baya dengan raut murka. Dan raut tersebut ditujukan pada Lara yang telah menumpang tidur di depan kios wanita tersebut.
Seusai membereskan barang bawaannya, Lara langsung pergi meninggalkan wanita pemarah dengan kiosnya itu.
Pagi ini memang cerah, namun raut Lara tak pernah sekalipun terlihat cerah. Dalam cerahnya dunia ini, ia masih merasakan redup dalan jiwanya. Dalam terangnya langit pagi ini, masih ada celah gelap di setiap rongga kehidupannya. Semua saling bersinergi membentuk paradoks dalam realita hidup seorang Lara.

Tak ada yang lebih indah bagi Lara selain memetik senar-senar ritmis dari gitar kesayangannya itu. Nada-nada indah selalu tercipta dengan alunan harmoni yang spektakuler. Ia tak pernah memberi nama setiap melodi yang ia ciptakan, ia hanya ingin melodi-melodi itu bebas tanpa terikat oleh apa pun dari dalam dirinya.
“Wah, merdu sekali petikan-petikan gitarmu Nak!”
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara seorang pria yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Bila dilihat dari penampilannya yang menggunakan setelan jas hitam dan sepatu yang mengkilap, sepertinya ia orang yang terpandang dan tentunya kaya.

Lara melongo menatap pria tersebut, tanpa sepatah kata pun untuk membalas pujian sang pria. Ia hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk : tanda berterimakasih.
“Lho, kok cuma senyum? Siapa namamu, boleh Om tau?” tanya pria itu lagi seolah memaksa karena merasa tak ada respon jawaban.
Karena terdesak, Lara langsung meraih kertas dan pensil dari dalam tas lusuhnya dan menulis nama “Larasati. Boleh dipanggil Lara.” pada permukaan kertas putih tersebut. Lalu memperlihatkannya pada pria itu sembari tersenyum lebar.
Pria itu mengernyitkan kening seolah bertanya pada dirinya, “Apa dia bisu?!”

Lara menurunkan senyum lebarnya ke bentuk awal, ia kebingungan melihat tampang sang pria. Dan pemandangan itu berlangsung sekitar beberapa detik sebelum akhirnya seorang pria lain berpakaian dinas mendatangi pria bersetelan jas hitam tersebut.
“Lapor Pak Jodi, rapat dewan akan segera dimulai. Mohon bapak berkenan mesuk ke dalam mobil untuk menuju gedung DPRD.”

Pria berseragam dinas itu, yang ternyata asisten dari Jodi Dharmawan, seorang pengusaha kaya dan sekaligus sebagai ketua DPRD Kabupaten Kalingga.
“Oh, baik. Sekarang saya menuju ke sana. Tapi, beri saya waktu 3 menit lagi.”
“Baik Pak!”

Sebelum pergi Jodi menyempatkan diri untuk pamit pada Lara. Entah kenapa Jodi merasakan getaran yang tak asing dari diri gadis itu. Seperti ada ikatan batin diantara mereka berdua. Lara pun merasakan hal itu, tapi ia tak punya keluarga bagaimana mungkin Lara bisa percaya tentang ikatan batin diantara Jodi dan dirinya.
“Boleh lain kali Om menjumpai kamu di tempat ini lagi Lara?” tanya Jodi ramah.
“Hemm....”

Lara hanya mengangguk tanda setuju, karena tak ada yang bisa ia ucapkan selain memperlihatkan bahasa tubuh.
Seiring dengan itu, Jodi tengah bersiap-siap untuk berangkat dengan asistennya. Ia masih sempat melambaikan tangan pada Lara. Entah mengapa pertemuan singkat itu menjadi pertemuan yang istimewa bagi seorang ketua DPRD yang selalu sibuk berkutat dengan urusan politik dan sosial.
“Sampai jumpa Lara...”
Lara turut membalas dengan lambaian tangan.

Berawal dari sebuah petikan gitar. Jodi dan Lara menjadi sering bertemu semenjak kejadian itu. Mereka terlihat akrab layaknya ayah dan anak. Lara juga dibelikan baju baru, sepatu baru, tas baru, dan gitar baru yang membuat Lara makin berbunga-bunga. Selepas bekerja Jodi selalu menyempatkan diri untuk bertemu Lara.
Taman Kota Kalingga adalah saksi bisu bertemunya dua insan yang saling berparadoks dalam kehidupan mereka masing-masing. Benar-benar mukjizat Tuhan yang maha sempurna. Mereka sering jalan-jalan bersama, bercerita bersama dan menyanyi bersama dengan iringan gitar Lara. Hingga tak disadari karisma seorang pemimpin sudah tak nampak lagi pada perangai Jodi, yang ada hanya karisma seorang ayah.
******

“Aku sudah membuang bayi itu!”
“Apa? Apa kau sudah gila Susan? Itu darah daging kita, tega nian kau seorang ibu berbuat seperti itu! Dimana kau buang anakku? JAWAB!!!”
Jodi tak percaya istrinya akan berbuat sekeji itu. Namun terlambat, bayi itu telah dibuang ketika Jodi tengah bertugas di luar pulau Bali.
“Di TPA. Dan mungkin sekarang dia sudah mati dimakan anjing. Sudahlah, anggap saja aku tidak melahirkan lagi setelah Victor dan Ria : anak pertama dan kedua Susan.
“Kau itu benar-benar.... aaaagghhhhh!!!!”
Hampir saja tangan Jodi melayang ke pipi kanan Susan, namun tertahan dan dihempaskan ke arah lain. Jodi tak ingin membuat perkara lebih panjang dengan istrinya yang sudah berjasa membesarkan kedua anaknya hingga mereka berhasil seperti sekarang. Namun, di sisi lain Jodi tidak mungkin melaporkan istrinya ke polisi atas tindakan kriminal pembuangan bayi. Dibalik jabatan tingginya, ia sekeluarga dan rumah sakit yang dulu menjadi saksi bisu kelahiran bayi malang itu menutup rapat-rapat rahasia ini. Dengan uang kerjasama pun berjalan dengan lancar dengan pihak rumah sakit.
*****

Lara kebingungan melihat Jodi yang tengah hanyut dalam lamunannya. Ia mencoba untuk menyadarkannya dengan menyenggol lengan pria itu.
“Eh Lara, maaf. Om...”
Jodi tak sadar bahwa barusan flashback dari masa lalunya terputar kembali. Ia teringat dengan putrinya yang dibuang. Kembali ia menatap Lara yang sedari tadi memperhatikannya.
“Apa mungkin, apa mungkin kau putriku yang hilang itu? Katakan padaku Lara sayang..” ucap Jodi dalam hati.
“Jika Om boleh tau, siapa orang tuamu? Dan kau tinggal di mana Nak?”

Lara terdiam. Mulai meraih kertas dan pensil kesayangannya, lalu menulis.
“Saya tidak punya orang tua. Saya tidak punya rumah. Saya hanya punya gitar. Saya lahir dari sampah, mungkin orang tua saya adalah sampah.”
Kata-kata yang polos atau mungkin tidak polos sama sekali bagi Jodi, membuat ia tercengang akan kesaksian Lara. Bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu.
Namun di benak Lara, itu hanya kata-kata biasa yang tak ia tau persis maknanya. Makhlum, Lara belum sempat mengenyam bangku sekolah selama hidupnya. Tapi Lara punya semangat yang tinggi untuk belajar, buktinya ia bisa menulis meskipun ada banyak makna yang ia tak mengerti. Bahkan ia tak pernah tau apa itu orang tua, yang ia tahu hanya sampah. Dan mungkin, Lara juga tidak tahu apa itu sampah. Tak ada bedanya.

Jodi masih terjebak dalam keterkejutannya. Ia mulai memutar balik otak dan ingatannya. Mulai membuka kembali lembaran-lembaran album suram yang telah terkubur rapi oleh kebusukan. Tak lama kemudian ia tersadar. Sadar akan gadis yang ada di depannya itu adalah benar anak kandungnya yang telah lama hilang 17 tahun yang lalu.
“Lara, mau ya jadi anaknya Om?”

Lara hening sejenak. Mencoba menyadarkan diri, ia tak bermimpi. Lara meyakinkan sekali lagi dengan bahasa tubuhnya.
“Benar Lara, Om serius. Dan sekarang juga kamu akan Om ajak ke rumah Om, gimana? Mau ya?”
Seperti mendapat 2 Joker dan 4 As sekaligus, ini keberuntungan yang sulit dipercaya oleh Lara.
Lara mengangguk tanda setuju.

Sungguh ajaib. Dalam hitungan beberapa detik hidup Lara berubah 360 derajat. Dari meminta sedekah, kini mampu memberi sedekah. Baju lusuhnya berubah seketika menjadi dress putih yang cantik dan mewah. Rambutnya yang kusam tak terawat itu dirombak habis-habisan oleh hairstyles kepercayaan Jodi di salon yang cukup megah dan elite.
Beberapa jam yang lalu Lara masuk ke salon sebagai Lara yang kumuh dan lusuh. Namun 2 jam kedepan, keluarlah seorang putri cantik dengan rambut yang telah dismoothing dan wajah yang berbinar-binar. Kini Lara telah siap memasuki rumah megah orang nomor satu di Kalingga, Jodi Dharmawan.
Jodi dan Lara akhirnya sampai di rumah kediaman Jodi. Mereka disambut oleh pekarangan yang luas nan asri, dengan kolam renang besar di sisi kanan dan taman yang indah disisi kiri. Tampak dari kaca mobil bola mata Lara terbelalak dan menyapu seluruh isi pekarangan rumah itu. Bila pekarangannya saja sudah megah begini, lantas bagaimana isi di dalam rumahnya? Batin Lara bergumam.
Benar saja, rumah Jodi sangat megah dan indah. Ada 4 pilar besar yang terbuat dari bahan marmer menyambut kedatangan mereka. Rumah itu terlihat berkilau, karena 90% bahan luar dari rumah itu adalah bidang-bidang marmer putih yang mahal. Rumah itu tampak elegant berdiri kokoh di depan Lara.

Jika tadi Lara telah dimanjakan oleh keadaan rumah yang super mewah itu, kini ia harus terkagum-kagum ria juga dengan fasilitas yang dimiliki rumah tersebut. Dua orang security datang menghadap pada Jodi selaku tuan rumah. Lalu mereka membukakan pintu dan mengawal kedua majikannya memasuki rumah.
“Nah, Lara. Sekarang ini rumah barumu, dan sekarang Om akan tunjukkan di mana kamarmu.” kata Jodi sembari menuntun Lara.
“Dan, ini dia kamar barumu. Om harap kamu suka ya Nak? Sekarang Om harus pergi dulu, ada rapat penting yang harus Om hadiri. Baik-baik di sini ya Sayang.”
Setelah menunjukkan kamar pada Lara, Jodi langsung meninggalkan Lara dengan kamar barunya itu. Dengan sebuah lambaian tangan oleh Jodi dan dibalas pula oleh Lara, Jodi mengakhiri kebersamaan mereka.
“Siapa gadis itu, Yah?”

Seru seorang wanita paruh baya dari arah belakang Jodi. Semakin lama wanita itu semakin mendekat. Langkah Jodi jadi terhenti mendengar seruan tersebut. Segera ia membalikkan badan.
“Dia anak kita, anak yang telah tega kau buang!” sambut Jodi dengan nada agak tinggi.
“Apa?”
“Ya, dan sekarang dia tinggal bersama kita di sini, di rumah yang berhak ia huni!”
“Ta..tapi, dia sudah mati 17 tahun yang lalu!”
“Belum, buktinya 17 tahun setelah itu aku menemukannya!”
Jodi berlalu meninggalkan Susan dan tidak melanjutkan pembicaraan serius itu panjang lebar. Sementara Susan masih terdiam, antara shock dan tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Jodi, suaminya.
Dalam waktu yang bersamaan pula, Lara sedari tadi sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Artinya ia letah merekam semua percakapan antara Jodi dan Susan dalam memorinya yang benar-benar kosong. Butiran bening mulai menitik dan membasahi pipi mulusnya. Dadanya terasa sesak dan jantungnya terasa dihujam belati yang sangat tajam. Lara lemas.

Genap seminggu sudah rebeca menjalani hari-hari bak seorang putri kerajaan. Walaupun butuh sedikit adaptasi, namun kehadiran Jodi yang selalu menemaninya ditengah kesibukan-kesibukan Jodi yang padat membuat Lara semakin kerasan tinggal di rumah tersebut.
“Lara mau sekolah?”
Pertanyaan singkat itu membuat Lara agak sedikit kaget dan ada rasa gembira di dalamnya. Seketika Lara mengangguk tanda setuju.
Meskipun Lara dibesarkan dalam kerasnya kehidupan jalan, tetapi itu tak membuat niatnya surut untuk menuntut ilmu. Selama di jalan ia banyak belajar dari murid-murid sekolahan yang sesekali menyempatkan waktu untuk mengajarinya membaca dan menulis. Mata tak ayal, perlahan Lara semakin pintar. Dan kini ia siap menantang dirinya untuk mengenyam bangku sekolah.

Karena daya nalar Lara yang cukup baik untuk menangkap pelajaran, Jodi tidak menyekolahkannya di SLB melainkan di sekolah biasa seperti anak-anak normal lainnya. Dan tak tanggung-tanggung, SMA negeri yang berpredikat RSBI pun menjadi pilihannya untuk Lara. Jodi yakin Lara mampu dan bahkan lebih mampu melebihi kelebihan anak lainnya di sekolah itu.
“Terimakasih Om.”
Lara tersenyum sembari memperlihatkan kata-kata yang ditulis pada permukaan kertas.
Jodi hanya membalas dengan sesungging senyum dibibirnya.

Jodi terduduk di sebuah ruangan. Matanya terus memandang serius pada seorang wanita yang tengah berbicara dihadapannya. Tanpa mengurangi sedikit rasa hormat, wanita itu berbicara panjang lebar mengenai Lara, anaknya.
“Sepertinya bapak harus segera merujuk Lara pada psikiater ahli.”
“Maksud ibu?”
“Saya tidak tahu dengan cara apa saya harus memberitahu hal ini pada bapak. Tapi bapak tetap harus tahu.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Jodi makin penasaran.
“Kemarin kali kelima Lara masuk BK atas kesalahan yang sama. Dua diantara korban Lara, sekarang tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Namun tadi pagi kami baru mendapat kabar bahwa salah satu dari mereka meninggal dunia dengan luka yang cukup parah di kepalanya.”
“Ya Tuhan, berita buruk macam apa ini!”

Seru Jodi, tak percaya dengan apa yang barusan ia simak. Dan sekaligus tak percaya bahwa seorang Lara yang polos mampu melakukan hal tersebut.
“Maaf Pak, seburuk apa pun berita ini bapak tetap harus mengetahuinya. Kami juga tak percaya dengan hal ini. Lara seorang anak berprestasi, ia sempat menjuarai beberapa olimpiade dalam ajang OSN. Namun sejak sikapnya berubah beberapa bulan yang lalu, kami menjadi ngeri dan sekaligus shock olehnya.”
“Lalu, mengapa tak ibu ceritakan dari dulu masalah ini pada saya?”
“Awalnya memang seperti itu, tapi kami takut. Kami juga telah sepakat untuk men-dropout Lara dari sekolah. Kami takut kalau-kalau korban semakin banyak berjatuhan gara-gara satu orang siswa. Namun hasilnya nihil, kami tetap tidak berani mengingat jabatan bapak selaku orang nomor 1 di kota ini.”
Wanita itu kian berpasrah di depan Jodi. Sudah sekian jam mereka terjebak dalam kondisi yang amat krodit seperti itu.

Sepertinya suasana kelas XII IPA1 mendadak seru pagi itu. Terlihat seorang gadis terduduk dengan darah dikepalanya. Teman-teman lainnya tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya bisa berngeri-ngeri ria menyaksikan kejadian itu.
Lara hanya menatap gadis itu dengan pandangan tajam seolah penuh dendam. Kemudian ia berlalu meninggalkan kelas. Tak ada yang tahu kemana ia pergi.
Suasana mencekam mulai terasa di sekolah terpandang tersebut. Hingga akhirnya awak media berhasil mengabadikannya di dalam sebuah surat kabar. Nama Lara Dharmawan seakan menjadi topik hangat yang tak habis-habis diperbincangkan seluruh media sosial. Kini Lara telah menjadi buronan para paparazzi.
Menjadi pusat perhatian dalam waktu yang cukup singkat membuat Lara menjadi semakin tak tenang. Sudah beberapa minggu ia absen dengan alasan yang tidak jelas. Tentu ini hal ini sekaligus menjadi ketenangan tersendiri bagi pihak sekolah yang sudah resah dengan ulah sadis Lara.

Di sebuah rumah sakit besar di daerah Kalijati.
“Apa sebenarnya yang terjadi pada anak saya, Dok?”

Suara barito Jodi memecah keheningan ruangan yang hampir seluruhnya bernuansa putih tersebut. Terlihat seorang dokter yang tengah serius menganalisis hasil psikotes dari anak Jodi, Lara.
“Hasil ini sungguh mencengangkan Pak. Belum pernah saya menghadapi kasus semacam ini selama saya bekerja sebagai psikiater.”
“Memangnya hasilnya seperti apa?”
“Baik akan saya jelaskan, namun sebelumnya bapak harus menyiapkan mental yang cukup untuk mendengar hasil riset ini.”

Jodi membalas dengan anggukan mantap.
“Begini, anak bapak mengidap penyakit PSIKOPAT. Psikopat itu sendiri berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya sering disebut SOSIOPAT. Namun tidak berarti orang gila. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan. Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.”

Psikiater itu memaparkan dengan jelas penyakit yang diidap oleh Lara. Bak disambar petir di siang bolong. Jodi shock bukan kepalang. Berkali-kali ia menghela nafas panjang, namun tak juga kunjung menenangkan kegundahannya. Kali ini ia benar-benar sangsi untuk mengajak Lara tinggal di rumah itu. Lara benar-benar orang sakit.
“Sudah saya katakan dari awal, ini butuh mental yang tinggi. Seseorang biasanya sulit mencerna kenyataan yang amat pahit, yang sabar ya Pak Jodi.”
“ Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang terhadap Lara, Dok?”
“Mengingat ini sangat berbahaya bagi keselamatan bapak sekeluarga, saya sarankan bapak membawanya ke tempat rehabilitasi mental. Bukan rumah sakit jiwa ya Pak! Tapi REHABILITASI MENTAL. Oia, di mana anak bapak sekarang? Saya harap ia tidak berada dekat dengan orang-orang yang dibencinya.”
“Di rumah, Dok.”

Suasana hening sejenak. Dan tiba-tiba....
“Astaga, di rumah saya bilang, Dok??? Maaf, saya harus segera pulang!” kata Jodi, sebelum akhirnya ia melesat secepat kilat menuju rumah.
Sementara sang dokter tampak bingung melihat reaksi Jodi.

Jodi memasuki pekarangan rumahnya dengan tergesa-gesa, seperti sedang dikejar oleh monster yang menyeramkan. Biasanya ada security yang menyambutnya, namun rumah tampak dalam keadaan sepi. Ia masih ingat ketika ia pergi dari rumah dengan meninggalkan Susan, Victor, Ria dan Lara di rumah. Sebenarnya ia tahu bahwa hubungan istri dan anak-anaknya tidak terlalu baik dengan Lara, tapi sebelum ia mendapat berita mencengangkan ini semua tampak baik-baik saja, pikirnya. Sementara Susan telah berkomitmen bahwa ia tak akan menerima Lara sebagai anak yang pernah ia lahirkan. Bagi Susan itu adalah aib bagi orang terpandang seperti dirinya.
BRRRAAKKKKK.......!!!!
Jodi telah memasuki pintu utama rumahnya yang tak terkunci itu. Namun Jodi agak bersemangat membukanya hingga terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras.

Semua ruangan di lantai satu telah diperiksa, tak juga ia temui istri dan anak-anaknya. Jodi menaiki tangga dengan langkah yang semakin dipercepat. Dan sampailah ia di lantai dua rumahnya. Di sana ada sebuah kamar mandi besar, 3 kamar, dan sebuah ruang kerja miliknya. Pertama Jodi memeriksa kamar mandi. Dan...
“Aaaaaaaaggghhhhhhh....!!!”
Jodi berteriak histeris menyaksikan pemandangan yang amat mengerikan di depannya. Dua mayat manusia terbujur kaku di tempat yang agak berjauhan. Kedua mayat itu tak lain adalah security yang selalu setia menjaga rumah megah itu. Keduanya tewas dengan luka gorok di leher. Ia tak tahu atau atau mencoba untuk tidak mencari tau siapa gerangan orang sadis yang tega melakukan hal ini.
Dari kejauhan, tepatnya di kamar nomor 3 paling ujung dari tempatnya sekarang terdengar samar-samar suara petikan gitar. Ia seolah tau itu adalah Rebeca, namun nada petikan gitar tersebut terasa sangat asing di telinganya. Seharusnya Lara memainkan melodi yang gembira seperti ketika ia pertama bertemu lara yang tengah memainkan gitarnya. Namun yang ia dengar kini adalah melodi menyeramkan seolah sedang berkabung. Mengapa Lara berubah.
Jodi seolah merasakan penderitaan yang di alami Lara sejak dulu. Andai saja ia tidak terlalu sibuk dengan urusan kepolitiknnya, pasti Lara kecil tidak sampai dibuang oleh Susan. Dan kini semua itu tinggal penyesalan belaka. Dengan langkah gontai Jodi langsung menuju kamar ketiga yang merupakan sumber dari bunyi petikan gitar Lara atau bukan Lara yang sebenarnya.
Jodi membuka pintu.
Jiwa Jodi seakan lepas dari badan kasarnya, berkali-kali ia menepuk pipinya ke kanan dan ke kiri. Ini kenyataan.

Pemandangan yang lebih seram dari pada mayat-mayat security itu kian membuatnya tak sanggup untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Jodi tumbang dan tertunduk. Ia shock berat.
“Mengapa seperti ini Lara?”
Kalimat bernada lirih terlontar dari bibir Jodi. Kini ia tak punya lagi cukup tenaga untuk membentak bahkan marah.
Sementara Lara tak merespon dan masih tetap betah dengan petikan-petikan gitarnya yang menyeramkan.

Suasana tersebut bertahan kira-kira sekitar 1 menit sebelum akhirnya kejutan yang lain mulai menampakkan diri pada Jodi yang ketika itu telah perpasrah diri menerima kejutan selanjutnya.
“Aku hanya mencoba menghantar kepergian mereka dengan lagu kematian ini, dan aku harap mereka tenang di sana. Apa ini salah, ayah?”

Jodi bangkit dari posisinya yang tertunduk, ia menatap lekat pada Lara dan gitarnya yang berlumuran darah segar. Sementara Lara menatap tiga wujud yang tak lagi bernyawa itu :Susan, Victor dan Ria. Jodi pun sekaligus tercengang karena baru pertama kalinya Lara memanggilnya dengan sebutan AYAH.
“Ka...kau, bisa bicara Lara?”

Suara parau Jodi tampaknya memaksa Lara untuk turut menatapnya. Namun Lara tak lagi melanjutkan perkataannya yang cukup lancar itu.
“Apa motif dibalik semua ini? Mengapa kau berubah seperti ini, Nak?” lanjut Jodi.

Lara bangkit dan mendekati Jodi. Ia tersenyum sembari menjawab.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mereka bahagia dan tidak terlalu lama menderita di dunia ini dengan rasa dengki dalam diri mereka.”
“Ta..tapi, ini terlalu sadis.....”
“Sadis ayah bilang? Mana lebih sadis dibanding dengan membuang anak kandung di tempat pembuangan sampah dan membiarkannya hidup sendiri dikejamnya kehidupan jalanan???”

Jodi terdiam. Nafasnya terasa tertahan sejenak dan jantungnya sakit. Seperti ada peluru nyasar yang mengenai tepat di jantungnya.
“Lagi pula ini tidak sebanding, kehidupanku yang sadis hanya dibayar dengan cairan kental berwarna merah ini. Sungguh tak adil!”
“Lalu, apa yang kau mau sekarang?”
Lara menatap tajam ke arah kedua bola mata Jodi. Rautnya yang polos kini menjelma menjadi raut kemurkaan yang tak pernah Jodi bayangkan sebelumnya.

Lara memeluk Jodi lalu berkata.
“Aku ingin ayah bahagia.... Di sana, dengan m e r e k a....!”

Hening... . . .

PROFIL PENULIS
Nama : Desak Ketut Putri Handayani
Alamat : Klungkung, Bali.
Sekolah : SMA N 2 Semarapura
TTL : 5 Maret 1995
Tentangku : Ilalang kecil yang ingin menjangkau langit.
Facebook : Putri Handayani (Seniman Tanpa Ekspresi)
 
sumber : lokerseni

Minggu, 13 Januari 2013

CINTAKU BERUJUNG KEMATIAN

CINTAKU BERUJUNG KEMATIAN
Cerpen Elsa Monica

Ku langkahkan kaki ku, menuju ruang makan. Dengan rasa kantuk yang kurasa.
“Ayu, pergegas langkah mu. Kamu sudah mau telat” kata Ibu.
 “iya bu” jawab ku sambil menahan kantuk.

Aku percepat sarapanku karna tinggal 45 menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.
“mah, Ayu berangkat ya.” Kataku sambil memakai sepatu.
“iya” jawab ibu singkat lalu masuk ke kamarnya. Sekitar 30 menit ku tempuh perjalanan dari rumah menuju sekolah. Ini memang hari pertamaku sekolah di SMA ini. Sebenarnya aku pindahan dari Bali, aku pindah ke Jakarta karna, perceraian kedua org tuaku.
“maaf, mau nanya ruang kepala sekolah itu dimana yah?” tanyaku pada sekelompok perempuan cantik yg sedang bergosip.
“di sana! Eh, lo anak baru yg di bilang pak Bambang itu ya? Pindahan dari Bali. Yang katanya menjuarai olimpiade IPA tingkat nasional itu?” kata Sintya, yg ternyata leader kelompok yg mereka namai “The Girls” itu.
“terimakasih, hehehehe” jawabku sambil senyum.
“aku duluan ya mau ngadep Pak KepSek” jawabku pamit.
“silahkan” jawab Sintya.
“Murid-murid ini murid baru yg bapak ceritakan kemarin, silahkan perkenalkan nama mu nak” kata Pak Bambang dengan halus.
“Hai semua, nama saya Ni Kade Stevina Ayu, saya biasa dipanggil Vina sama teman-teman saya.
Saya pindahan dari 177JHS RSBI, di Bali. Terima kasih” kataku memperkenalkan diri.
“sama-sama Vina. nah, Vina. Semoga kamu senang yah sekolah di sini. Kamu duduk sama andre ya.” Kata Pak Bambang. “ah, gamau Pak! Saya gak mau duduk sama anak kampung kayak dia!” kata Andre. Seketika perasaan ku langsung down. Dan tentunya teman-teman sekelas menertawakan ku. “kalau kamu menolak,nilai kimia kamu bapak kurangi. Dan yg berani menertawakan juga!” ancam Pak bambang. Dan akupun tertawa di daalam hati. Hihihi, makanya jangan berani menertawakan anak spt aku.
Hari-hari ku lewati, hanya sekolah, tidur, belajar, makan. Itu saja kegiatan sehari-hari ku. Sehari-harinya aku hanya sendiri. Di sekolah mau pun di rumah. Andre teman sebangku ku saja menjauhi ku. Sampai pada suatu hari aku mendapat bbm dari teman ku di Bali, kalau ayahku sekarang pake bb, tak ku sia-siakan informasinya, langsung ku invite pin nya. Dan itu membuat ku kaget, ketika permintaan ku accept. Yg kulihat PM ayahku adalah “H-7 married. <3 Vannesia Aprililia <3” ayah ku memang jahat, pikirku.

Dia selalu memukuli aku dan ibu ku. Lalu dengan gampangnya dia membawakan surat cerai serta wanita penggoda itu kerumah ku, lalu ayah mengusir kami. Dengan mencoba meredam emosi ku, aku bm ayah. “yah, mau nikah? Ko undangannya ga nyampe ka aku dan ibu? Hehehe” kataku memulai pembicaraan yg basi ini. Namun apa yg ku dapat ayah membalas pesan ku “anda siapa? Anda dan ibu? Saya tidak kenal kalian siapa! Jangan ganggu hubungan saya dan Lia sekarang. Jika sampai pernikahan kami gagal anda akan saya bunuh” jawab Ayah membuatku sakit.
“jadi anda tidak mengenal saya? Anak yg anda buang sekitan 3 bulan yg lalu? Yg anda campakan bersama mantan Istri anda?” jawabku menahan emosi. “saya tidak pernah punya anak, saya tidak pernah punya istri. Saya baru akan menikah dengan org yg paling saya sayang, yaitu Lia” jawab ayah, yang langsung membuat ku menangis.
“ayah, aku anak ayah. Ayah jahat banget sama Ayu. Yah ini Ayu, anak Ayah” jawab ku sambil menangis. “saya tidak punya anak, apalagi yg namanya Ayu. Sudah! Jangan ganggu saya” jawab ayah, yg langsung mendelcont ku. Tidak pernah kurasa sesedih ini, bahkan saat Dimas meninggalkan ku.

Saat aku menangis Ibu datang menghampiriku, “Anak ibu kenapa nangis? Bilang Ibu siapa yg sakitin Ayu?” kata Ibu mencoba menghiburku. Ku ceritakan semua pada ibu, dan mulai saat itu kejadian-kejadian aneh pun mulai terjadi.
“hey Vina” sapa Andre yg membuat ku kaget. “ha? Iya. Tumben banget lo nyapa gue, hehe.” “emang gaboleh ya? Gpp hehehe, lo cantik juga yah” “ah bisa aja lo”

Saat aku mulai belajar,seketika bulu kuduk ku merinding. “Dre.” “iya” “lo,merinding ga?” “engga,kenapa?” “ko gue merinding ya” “yaiyalah,si Jono kan setan” “sial,serius gue” “udah lah bawa enjoy aja” “oke, thx ya”
Belakangan ini aku selalu merasa di ikuti. Aku bingung. Aku ketakutan. Tak ada yg bisa aku jadikan tempat curhat.

Istirahat tiba.
“Vina” sapa Andre mengagetkan ku. “ada apa?” “engga,mau nanya aja” “nanya apa?” “lo kenal Lia?” “hmmmm, gatau gue lupa” “ohh, gue kasih tau ya. Dia mau balas dendam ama lo,jadi take a care baby” “demi apa?!?!?! Eh tunggu lo manggil gu apa td?” “baby?” “aaaa.so sweeeetts” “hehehe, Vin. Sebenernya gue udah lama mau ngomong ini” “ngomong apa?” seketikapercakapan kami berubah menjadi serius. “mmmm...nanti aja ya, ga surprice nanti” “dih,wkwkwkwk.suka-suka lo dah Dre” “hehe..gue balik ke kelas duluan ya” “iya”

Malamnya, kejadian siang tadi selalu ada di pikiran ku, maksutnya Andre apa sih? Jangan-jangan...ah dia bikin gue nge fly aja. Tak lama aku memikirkan Andre seketika vas bunga di meja rias ku jatuh, dan langsung saja aku merinding, tak lama kemudian lampu kamar ku pun mati. “IBU!!!!!!” teriakku, tapi tak ada jawaban dari ibu.
“Ayu, kamu mau kemana?” lampu kamarku menyala, dan tiba-tiba muncul seorg wanita cantik dari sudut kamarku.
“ka...kamu siapaa?” kata ku ketakutan. “aku,Lia wanita yg akan dinikahi ayahmu, sekaligus Ibunya Dimas.” Kata wanita itu, seketika aku ingat percakapan ku dengan ayah di bbm waktu itu. “mau kamu apa?” jawabku ketakutan. “mau ku? Kamu bertanggung jawab atas anak ku yg kamu campakan” jawabnya mebuatku takut “karna kamu anak ku menhantuiku, dia ingin kamu mati. Dan aku ingin membalaskan dendam anakku kepadamu” sambungnya. Lalu dia mendorongku ke sudut ruangan,yg membuat kepalaku berdarah.
“Ayu!! Ayu!! Kamu kenapa nak? Ayu buka pintunya!” kata ibu dari luar kamarku. “urusan kita belum selesai Ayu! Aku akan kembali dengan anakku, supaya dia bisa tenang disana hahahahahahaha” katanya sambil tertawa puas. “Ayu, kamu gapapa?” “Ayu gapapa bu” “kepalamu berdarah yu” “iya bu tadi Ayu kaget jadi nabrak tembok” “oh yasudah, kamu tidur ya, Yu” “Ibu Ayu takut tidur sendiri, Ayu tidur sama Ibu ya?” “iya Yu, Ayo”

Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan di sertai rasa takut. Setiba aku di sekolah, Andre langsung menghampiri ku. “Vina, kamu gapapa kan? Kamu diapain sama Lia? Apa yg dia lakukan padamu?” “dari mana kamu mengetahiunya? Aku tidak apa-apa, itu hanya insiden kecil” “insiden kecil katamu? Lia hampir membunuh mu! Untung ibumu cepat datang” “darimana kamu mengetahui semua ini?” tanyaku mulai takut. “jangan takut Vina, aku punya semacam kekuatan untuk mengetahui hal yg aku tidak tau” “semacam kekuatan gaib, Dre?” “iya, kamu benar. Skrg ceritakan semuanya padaku”. Lalu aku menceritakan semuanya ke Andre, dan dia berjanji akan melindungiku. Aku senang karna aku bertemu lelaki seperti Andre. Trimakasih Tuhan, kau memberikan dia kepada ku.

Keesokannya Andre main ke rumah ku, dia sangat baik. Terlebih pada ibuku, dan aku yakin Ibu pasti akan menyetujui hubungan kami. Andre selalu main kerumah ku saat weekend tiba. Aku dan ibu ku sangat senang dengan kehadirannya. Aku berteman dengannya sampai kami lulus SMA. Karna pada saat kami lulus, Andre melamar ku. “Besok adalah hari yg paling kamu tidak bisa lupakan Vina” kata Andre sambil tersenyum. “terimakasih, dre. Kamu buat hari-hari aku&ibu berwarna, kamu buat kita lupa sama kejahatan ayah Dre” jawabku.
Benar saja, 13 Maret 2009. Andre datang kerumahku beserta ibunya malam hari untuk melamarku, aku yg daritadi menunggu di kamar dengan hati yg berdebar akhirnya dipanggil ibu. “Ayu, ini nak Andre udah datang” “iya bu” jawab ku. Lalu aku keluar dengan hati bahagia.
Betapa terkejutnya aku saat melihat Andre datang dengan mawar Merah kesukaan ku ditangannya. “makasih dre, kamu emg paling ngerti aku” andre hanya membalas perkataan ku dengan senyuman. Tapi senyumannya itu membuatku bahagia, “mana Mama kamu dre” “sebentar lagi datang” “ooh,duduk dre kita nunggu sambil ngobrol” kataku. “ibu diajak ga?hehe” kata ibu “silahkan bu” kata andre dengan sopan.

Tak lama kemuadian mamanya andre datang, betapa terkejutnya aku saat melihat mamanya andre, yg ternyata adalah Lia. Org yg selama ini ingin membunuhku. “ada apa kamu kesini? Kurang puas kah percobaan mu membunuhku satu tahun yg lalu?” kata ku ketekutan. “kamu ngomong apa sih Vina, ini mama ku” kata Andre menenangkan. “kamu jangan ngawur Yu, dia ini Mamanya Andre” kata ibu membela wanita itu. “Ibu, dia itu wanita yg ingin membunuh ku bu! Dia wanita biadab yg merebut ayah dari kita bu!” kataku mulai kesal. “jaga omongan mu, Vina. Saya tidak setuju Anak saya berhubungan dengan anak yg tidak tau adat seperti mu!” kata mamanya Andre.
“sebenarnya kalian siapa?!?! Apa yg kalian mau dari saya dan ibu saya? Kenapa kalian menghantui kami?” kataku. “sadar,Vina. Ini aku Andre” kata andre. Setelah Andre menenangkan ku ti ba-tiba mamanya andre berkata “semua sudah terlambat Vina, waktu mu sudah habis. Aku datang bersama anak ku, yang menuntut balas atas perbuatanmu! Dan kini kamu harus merasakan apa yang anakku rasakan! Hahahahahahah” kata mamanya Andre.

Ibu & Andre terlihat takut, terlebih aku yg sangatg ketakutan. Dan tiba-tiba muncul sesosok pria yg datang dari balik pintu. Aku mengenalnya, tapi aku ragu. Ternyata dia Dimas, lelaki yang dulu sangat aku cintai. Kami dijuluki pasangan ter-langgeng karna 2 tahun kami jalani tanpa konflik sedikit pun. Tapi semua itu berakhir ketika wanita itu datang. Kinan, perempuan yang menghancurkan hubungan kami. Dia memfitnah Dimas, bahwa Dimas selingkuh dengannya. Aku tidak percaya dengan kata-katanya. Tapi bukti-buktinya kuat.

Dan itu alasan ku untuk mengahkiri hubungan kami. Aku tidak tau kalau itu semua hanya akal-akalan Kinan, Doni sahabat Dimas menceritakannya kepadaku saat aku mengadiri pemakaman Dimas. Aku tidak tau kalau karna aku Dimas mati, aku menyesal. Yang aku tau bahwa Dimas meninggal karna kelebihan obat tidur. “kamu menyakiti hatiku Ayu, tetapi aku masih mencintaimu sampai sekarang. Tiap malam kulalui di taman kita hanya untuk menunggumu, berharap kamu ya datang menemuiku. Tapi tidak Ayu. Hanya aku menunggu sendiri disana, dalam kesunyian malam.
“maafkan aku Dimas, aku melakukan semua ini demi Ibu ku, aku sangat menyayanginya. Aku tidak mau melihatnya menangis, makanya aku ikut ibu pindah ke Jakarta, kita sudah tidak bisa bersama, kita hidup di dunia yang berbeda. Tapi percayalah Dimas, rasa cintaku padamu ini akan selalu ku simpan sampai kita bertemu nanti” kataku sambil menangis. “kita akan selalu bersama Ayu, aku datang menjemputmu. Lewat adikku aku datang kesini, untuk menjemput kamu seorang. Agar kita bisa bersama Ayu, seperti dulu” kata Dimas yg membuatku terharu.
“tidak, jangan bang. Vina sekarang milikku. Abang tidak berhak membawanya pergi” Andre membelaku lalu mencoba melawan Dimas. “diam kamu Andre, kamu tidak berhak mengatur saya” kata Dimas sambil mengayunkan palu yang ada ditangan kirinya hingga mengenai kepala Andre. “Andre!!! Dimas kamu jahat!” “tidak,bukan aku yg jahat,tapi kamu. Sekarang kamu milik ku. Tak ada yg bisa menghalangiku” tak menunggu waktu setelah Dimas berkata spt itu, Dimas menusukkan pisau yang dia bawa di tangan kanannya tepat di jantungku, lalu aku tidak sadarkan diri. Yang terakhir aku dengar hanya suara Andre yg berkata “Jangan!!! Jangan bunuh Vina bang!!!”